| Red-Joss.com | Hidup ibarat sidik jari yang tidak dapat dialih-milikkan.
“Life is a fingerprint that can not be duplicated. So make the best impression with it – live it – love it and don’t waste a single moment in your life because time has no holiday, dreams have no expiry date and life has no pause button.”
Saya adalah karya seni buatan Allah. Akan tetapi, saya belum selesai; masih berusaha mematut diri agar cocok dengan karya-Nya. Sidik jari Allah membekas di tiap bagian hidupku. Takkan pernah ada orang lain yang sama seperti diriku dalam hidup ini, saya dapat tugas yang harus kulakukan dan tugas itu tidak bisa dialihkan pada orang lain. Prosesku saat ini sedang turun, turun dari bukit prestasi, kembali ke asalku:
“Engkau adalah debu dan akan kembali jadi debu lagi.”
Nyatanya turun itu tidak lebih mudah dengan naik. Aku tidak jarang terpelèsèt hilang pijakan, karena menurun tidak selalu kulihat alurnya. Sadar, bahwa prestasi, hebat, viral hanyalah beban yang harus kulepas. Maka kulepaskan semua itu untuk memperkecil resiko jatuh sebelum sampai asal mulaku.
Yang kuingat hanyalah yang dikatakan St. Paulus, “Karena kita ini buatan Allah, dicipta dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef. 2:10).
Jadi dengan sangat hati-hati saya menuruni tebing hidupku…
Salam sehat dan bahagia.
…
Jlitheng

