“Jika salah, diperbaiki. Gagal, dicoba lagi. Tapi, jika kita menyerah, semuanya tamat.” – Jlitheng
…
| Red-Joss.com | “Kau tidak bekerja, Mas?” Istriku menyentuh lembut lengan saya.“Ada masalah di tempat kerja baru?” Saya menunduk untuk menghindari tatapan istri.
“Berat Dik…”
“Saya paham, Mas. Bekerja itu tidak ada yang enak. Lebih baik disyukuri sambil mencari pekerjaan lain.”
Saya diam. Rasanya berat sekali untuk bangkit. Membayangkan menaik-turunkan barang ke dan dari mobil itu capai dan melelahkan!
Berbeda jauh keadaannya dengan tempat kerja saya yang lama. Pakaian rapi, suasana kantor yang menyenangkan, dan dihormati.
Resesi ekonomi yang parah telah mengubah usaha di seluruh dunia. Perusahaan tempat saya bekerja bangkrut dan tutup.
Ketika sulit mencari pekerjaan itu, saya ditawari untuk jadi sopir mobil barang. Alasan istri, agar segera dimanfaatkan untuk menyambung hidup, dan ketimbang didului orang lain!
Saya tidak membantah fakta itu. Perut lapar itu tidak bisa ditahan dan dijanjikan. Kedua anak juga butuh biaya sekolah. Tapi ternyata, saya tidak sekadar menyopir, karena harus memanggul barang-barang kiriman itu.
“Kerja halal itu tidak perlu malu, Mas,” kata istri saya tidak lelah menyemangati. Ia tidak menuntut, tapi mensyukuri. Bahkan demi anak, ia rela berhenti bekerja, dan jadi Ibu rumah tangga. Padahal jabatannya waktu itu sebagai sekretaris Dirut.
“Demi masa depan anak-anak, kita harus berani mengalah,” katanya mantap, dan tanpa penyesalan.
Istri amat mempercayaiku, kenapa saya tidak mau berjuang untuknya dan demi keluarga?
“Kita tidak tahu, masa depan hidup kita. Lebih baik ditelateni dulu. Percaya dan imani dengan rendah hati, Allah mempunyai rencana yang terbaik dan terindah untuk keluarga kita,” kata istri saya sambil mengambil kunci.
“Kau mau ke mana, Dik?”
“Maaf. Saya tidak izin, memberi tahu, Mas. Selama seminggu ini, sejak Mas berangkat kerja, saya membantu beberes di rumah Mbak In. Jika anak pulang lebih cepat saya suruh mampir untuk pulang bareng.”
Saya terperangah. Tenggorokkan saya seperti tersumbat. Penjelasan istri saya bagai bunyi petir di siang bolong!
Ia memandang saya sedih, dan takut, jika saya marah. Perasaan saya seperti diaduk-aduk. Ia berani merendahkan diri demi keluarga. Sedangkan saya…?!
Seketika itu rasa ketersinggungan saya hilang, karena pengorbanan istri. Wajah saya serasa ditampar, sakitnya hingga ke hati. Sekaligus saya jadi malu. Harga diri saya seperti direndahkan ke titik nadir, karena istri ingin membantu dan meringankan beban keluarga!
Kupeluk istri dalam keharuan yang menyesak dada. Mata saya berkaca-kaca. Tapi semangat hidup saya menyala kembali.
“Dik, maafkan Mas. Karena belum bisa membahagianmu…”
“Aku percaya, Mas. Untuk anak-anak, kita harus bisa …”
Saya mengiyakan. Kuseka air mata istriku. Saya lihat senyum tipisnya, dan sorot matanya memancarkan keoptimisan.
Saya harus berani menerima kenyataan pahit itu untuk melihat hikmat Tuhan (Ibrani 12: 9-11). Semua itu demi kebaikan dan kebahagiaan keluarga.
“Tuhan, mohon bukakan jalan untuk kami,” doaku lirih sambil menuju ke tempat kerja.
…
Mas Redjo

