“Minta dipahami itu cinta diri dan egois. Tapi memahami orang lain, karena kita peduli dan murah hati.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Tergambar jelas dalam ingatan ini, ketika Bapak menegur saya, tepatnya menasihati agar anak-anaknya tidak bergantung pada orang lain, tapi mandiri.
Ketika kelas 2 SMP saya terlambat membayar SPP, sehingga disuruh pulang oleh Bruder. Usaha Bapak sedang pailit, karena terminal bis tempat Bapak berdagang digusur, direlokasi untuk musium.
Saya lalu menyinggung supupu Bapak yang kaya itu, kenapa tidak peduli untuk membantu. Padahal dulu ngenger pada Bapak, karena yatim piatu. Bapak menolak tegas, jika menolong dan membantu orang itu untuk dilupakan agar kita ikhlas hati.
Begitu pula, jika hari Minggu atau liburan, kami ingin bangun siang. Bapak ngomel dan membangunkan kami, bahkan sering memercikkan air ke wajah anaknya. Tujuannya agar kami tidak bermalas-malasan.
“Pekerjaan itu banyak, Le. Jika tidak belajar, kau dapat membantu Ibu, menyapu, ngepel, atau melap meja kursi… supaya kau mudah peduli dan ringan membantu.”
Kebiasaan bangun pagi mengajar saya rajin belajar, membantu Ibu beberes rumah, dan mandiri. Hal itu membentuk pribadi saya jadi peduli dan ringan tangan untuk membantu meringankan beban orang lain, khususnya pekerjaan istri di rumah.
Karena itu, ketika kami terlambat datang ke Gereja, saya malu dan merasa bersalah. Apalagi, dengan santai istri ngomong, “Tuhan memahami dan maklum, Mas. Anak kita kecil-kecil dan repot.”
Kita minta Tuhan untuk memahami dan memaklumi kerepotan …? Duh! Siapakah kita ini, sehingga berani mengatur-Nya?!
Bagi saya sendiri, datang terlambat ke Gereja itu tidak nyaman, malu disorot umat lain. Apalagi, jika anak berisik. Sehingga mengganggu.
Saya dengan tegas tidak mentolerir keterlambatan itu. Mumpung belum terlambat. Anak-anak masih kecil, sehingga mudah dididik, diarahkan, dan dibentuk agar tahu tata krama, tertib, dan sopan.
Sejatinya ke Gereja itu untuk sowan Gusti. Kita menanggapi undangan pesta Tuhan, menyambut tubuh dan darah-Nya dalam Ekaristi Kudus. Kita harus makin memantaskan diri melebihi pesta perkawinan di mana pun.
“Sudah layak dan pantaskah aku?”
…
Mas Redjo

