Jikalau hidup ini sebuah perjalanan salib…
Tidak sedikit mereka yang larut dalam ‘kontemplasi’ perjalanan sengsara Yesus, meneteskan air mata, tatkala merenungkan peristiwa-peristiwa sengsara-Nya. Merasakan sakit dan derita, ketika Yesus disesah oleh para serdadu. Merasa perih sewaktu Yesus dimahkotai duri. Merasa sakit, ketika Yesus terjatuh dengan salib berat di pundakNya. Menahan sakit tiada tara, ketika tangan dan kaki dipaku di kayu salib, tulang kaki dibebat dan lambung ditusuk dengan tombak.
Ketika seorang suami atau isteri menemani dan merawat pasangannya, bahkan ada yang sudah puluhan tahun…
Serasa ikut jalan salib itu. Jalan salib yang panjang dan melelahkan, lahir dan batin, hingga bahkan lelah rohani…
“Ya Bapa, jika mungkin, biarlah piala ini berlalu dari pada-Ku, tapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
Tuhan Yesus tidak pernah melemparkan derita-Nya kepada orang lain, bahkan kepada Yudas Iskariot, orang dekat-Nya yang sudah menjual-Nya untuk alasan material. Karena Yesus tidak ingin memotong salib-Nya sendiri. Dipanggul-Nya salib itu sampai garis akhir.
Kesadaran seperti ini kuyakin ada di hati para istri, suami, anak, atau adik yang salah satu anggota keluarganya tidak berdaya.
“Into Your Hands I commit My Spirit.”
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

