(Persembahanku pada hari Kemerdekaan untuk Negara dan Bangsaku. Kediri, 17 Agustus 2024).
Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hingga kapan ayunan paluku ini akan terus menghujam kerasnya bebatuan? Kapan pula akan berakhir? Kini, aku sedang menunggu terbitnya mentari.”
(Seruan Harapan Hidup)
…
Ilustrasi Imajinatif
Terdengar sayup-sayup beberapa kali seruan pilu dari mulut pria pemecah batu itu. Dengan tubuh basah keringat, ia mengayunkan palu itu memecah sunyi, sambil berseru, “Hingga kapan ayunan paluku ini menghujam bebatuan? Aku ingin melihat sinar mentari!”
Apa itu Kemerdekaan
Secara etimologis (KBBI): berarti bebas. Secara terminologi berarti bebas dari perhambaan, penjajahan, tidak terikat lagi, dan lepas dari tuntutan kekuasaan.
Berdasarkan tinjauan filosofis, kemerdekaan itu dapat dibagi atas tiga (3) aspek.
- Aspek Ontologi (eksistensi realitas): apa wujud nyata dari visi dan cita-cita luhur dari suatu kemerdekaan? Bagaimana wujud konkretnya?
- Aspek Epistemologi (esensi realitasnya): apa dan bagaimana konstruksi serta strategi berpikir dari para pendiri sebuah bangsa (founding fathers), bagaimana mereka mendisain tubuh bangsa ini, serta cita-cita kemerdekaannya.
- Aspek Aksiologi (nilai realitas): bagaimana kualitas perjuangan mereka demi memperjuangan nilai-nilai (value) suatu kemerdekaan.
Dari seluruh proses perjuangan itu dapat disimpulkan, bahwa kata kuncinya adalah pada faktor ‘sang manusia.’ Tentu, idealnya, bahwa dalam tubuh sebuah bangsa yang merdeka, dibutuhkan sikap kemerdekaan dalam berpikir.
Merdeka Berpikir
Sebuah bangsa merdeka, sangat penting memiliki potensi besar untuk mempertimbangkan segala sesuatu secara jernih dan sikap mandiri.
Lewat potensi kemandirian dalam kemerdekaan berpikir, maka sebuah bangsa merdeka akan terbebas dari aneka tekanan: baik tekanan politik, paksaan secara mental, moral, secara tradisi, dan terbebas dari sikap memonopoli serta rakus.
Mari kita refleksikan kembali, isi dan tujuan dari keluhan panjang pria pemecah batu itu.
Apa tujuan dari upaya panjangnya untuk memecahkan bebatuan keras itu? Apa cita-cita dan visi besarnya dalam memecahkan bebatuan itu? Serta apa pula makna terdalam dari pertanyaan abadinya, kapan dirinya akan melihat sinar mentari pagi?
Didaktika hidup, justru telah mengajarkan kita, bahwa untuk meraih sebuah kemerdekaan sejati dalam konteks belenggu apa pun di atas bumi maya ini, justru dibutuhkan sikap kepribadian yang kokoh kuat, berjuang keras, dan memiliki visi serta cita-cita luhur.
Karena kemerdekaan itu bukan sebuah hadiah, melainkan sebuah proses perjuangan!
…
Kediri,ย 17ย Agustusย 2024

