“Orang yang piawai mengkritisi sesama tanpa solusi, sebenarnya ia sedang memamerkan kebodohannya sendiri.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Sadar, karena mempunyai banyak kekurangan, kelemahan, dan bodoh, maka saya belajar untuk mengendalikan diri agar tidak mudah berkomentar miring alias nyinyir. Saya tidak mau membuka aib dan permalukan diri sendiri.
Bagaimana tidak. Setiap kali nyinyir di depan cermin, ternyata wajah saya bukannya makin ganteng, melainkan kian buruk dan jelek. Realitas itu yang membuat saya sadar untuk menggendalikan diri agar tidak asal bicara dan nyinyiran.
Karena sadar, bahwa nyinyir itu membuat wajah jadi buruk, saya berusaha untuk bersikap ramah, murah senyum, dan tulus hati agar wajah ini selalu cerah sumringah dan bahagia.
Jika dinyinyiri teman, atau oleh siapa pun yang tendensius, saya tidak membalas nyinyiran itu. Lebih baik saya mendengarkan teguran orang berakal daripada mendengarkan nyanyian orang bodoh (Pengkhotbah 7: 5).
Tidak hanya itu, saya juga belajar untuk memahami orang lain. Saya mahfum, bahwa perbuatan, perilaku, dan kata-kata baik itu belum tentu diterima semua pihak. Khususnya bagi mereka yang iri dengki, benci, dan kaum sumbu pendek.
Jujur, saya menolak nyinyir dan anti kontroversial, karena saya tidak suka kegaduhan, ribut, debat kusir tiada ujung, dan saling mengklaim yang paling baik dan benar sendiri. Lebih konyol dan miris lagi, jika dari teman itu berubah jadi musuh dan saling membenci.
Saya menjauhi permusuhan dan tidak butuh musuh. Tapi saya rindu pertemanan dan persahabatan yang akrab dan hangat. Karena hal itu lebih baik, bermakna, dan membahagiakan. Apalagi, jika kita bersinergi untuk melakukan hal-hal positif demi kemajuan bersama.
Mengkritisi itu baik, asal tidak untuk memojokkan, menyerang, dan menghakimi yang lain. Tapi memberi solusi yang tepat guna dan ikhlas hati untuk mencerahkan pikiran dan hati ini.
…
Mas Redjo

