Fr. M. Christoforus, BHK
“Saya sangat berharap, agar masyarakat tahu, bahwa saya datang ke dunia ini dengan tangan kosong, demikian juga saat saya kembali ke sana.”
(Alexander Agung)
…
The Great Alexander
Hari ini, kita diajak untuk turut mengenang dan merefleksikan kembali, apa makna sentral dari ketiga permintaan terakhir dari Alexander Agung. Sang Raja yang digelari, the great Alexander.
Permintaan yang sungguh Bermakna
Sungguh, betapa menggetarkan dan menyentuh nurani tulus kemanusiaan kita saat mengenang ketiga buah permintaan terakhir dari Alexander Agung. Apa dan mengapa?
Di hadapan para Jenderalnya, Raja Agung mengajukan tiga buah permintaan terakhir sebelum pergi dari dunia ini. Ia mohon agar ketiga buah permintaan itu sudi dikabulkan!
Dalam suasana hening sepi itu, bertitahlah Raja Agung โฆ
Ketika ia meninggal dan di saat diarak menuju ke pemakaman hendaklah:
(1) “Aku mohon dokterku sendiri yang harus menggotong peti matiku.”
(2) “Aku ingin, saat peti matiku dibawa ke liang lahat, jalan menuju ke kuburan dipenuhi dengan harta mahal yang telah aku kumpulkan selama kejayaanku.”
(3) “Agar kedua tangan saya berada di luar peti matiku.”
Suasana pun mencekam, entah paham atau karena merasa aneh atas ketiga permohonan itu.
Tapi, siapa yang berani untuk menantang permintaan terakhir dari The Great Alexander?
Akhirnya, para Jenderal sepakat, walau tentu, ada ganjalan di hati. Namun, sebelum dilaksanakan, para Jenderal itu memohon, agar Raja sudi memberikan penjelasan makna terdalam dari isi ketiga permintaan itu.
Tanpa berlama-lama Raja itu dengan gaya oratornya mendeskripsikan, makna dari ketiga permintaan itu.
Makna Simbolis dari Permintaan Raja
Mengapa justru Dokter yang merawatku sendiri yang harus membopong peti matiku?
Tujuanku, agar masyarakat tahu dan sadar, bahwa tidak ada dokter di dunia ini yang sanggup menyembuhkan siapa pun. Karena Dokter pun tidak berdaya menghadapi kematian.
Mengapa jalan menuju pemakaman harus ditaburi harta termahal?
Tujuanku, agar masyarakat tahu dan sadar, bahwa selama hidupku, aku telah mengumpulkan harta kekayaan, namun aku tak membawa apa pun. Biarlah masyarakat tahu, bahwa harta kekayaan itu hanyalah debu abu.
Mengapa pula, kedua tanganku justru terulur ke luar dari peti matiku?
Ada pun tujuanku, agar masyarakat tahu dan sadar, bahwa tatkala saya datang ke dunia ini, dalam telanjang dan tangan hampa. Maka, di saat aku kembali pulang hendaknya juga demikian.
Sungguh dasyat dan bermakna ketiga permintaan terakhir Raja Alexander Agung.
“Hidup yang bermakna adalah hidup yang sungguh direfleksikan,” demikian amanat sang kebijaksanaan.
Semoga lewat tulisan reflektif ini, kita diperkaya dan kian menyadari arti dan tujuan dari hidup kita ini!
Memento Mori!
…
Kediri,ย 15ย Agustusย 2024

