Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mendayunglah hingga ke samudra biru, agar tak diterpa ganas ombak.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
Hidup itu bagai Mengarungi Gelora Samudra
Sering arena kehidupan ini diibaratkan sebagai sebuah biduk yang sedang mengarungi gairah gelora samudra biru.
Di sana ada perjuangan, tantangan hebat, dan bahaya yang senantiasa mengancam.
Di sana pula dibutuhkan keuletan dan ketekunan pelaut yang berhati tabah. Pelaut yang mampu mengemudi dan mengendalikan layar biduk agar terhindar dari terjangan gelora gelombang.
Antara : Bibir Pantai dan Kedalaman Samudra
Benar dan sungguh benar, bahwa hidup dan kehidupan ini merupakan suatu perjuangan antara hidup dan mati (To be, are not to be). Adagium orang Latin, Vivere militare est: hidup itu suatu perjuangan.
Pernahkah gairah gelora ombak di bibir pantai yang mengingkari janjinya? Bukankah ombak itu setia? Ia tak ragu untuk menghempas dan menggulung lagi sambil mencumbui bibir indah pantai, walaupun arus nakal itu berkali-kali membawanya pergi? Itulah sebuah persembahan hidup yang bernama kesetiaan.
Hidup yang Bermakna
Ya, semoga aku dan kamu serta kita juga sanggup untuk bersikap setia, walau tak jarang disakiti dan dilukai. Bukankah itulah hidup yang berproses untuk membentuk kita?
Bukankah setiap hari di dalam rentangan dan bentangan samudra hidup ini, aneka permasalah sering datang dan pergi tanpa diundang atau diusir?
Dalam konteks analogis ini, manusia diajak agar bersikap cermat dalam mengayuh biduk dan arif mengendalikan kemudi serta layar agar hidup kita tidak karam.
Kita dituntut untuk terus berjuang agar kita dapat meninggalkan bibir pantai menuju ke kedalaman samudra di tengah laut lepas.
Di sana, kita tidak akan lagi menjumpai ganas ombak dan cercaan bebatuan pantai.
Demikian pula dengan hidup manusia agar jadi tenang dan damai, jika iman kita sungguh berakar dalam tangan Sang Pencipta.
Mari jadilah hening agar hidup ini kian bermakna.
“Duc in Altum!“
…
Kediri,ย 14ย Agustusย 2024

