Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jangan kamu bilang negara ini kaya bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya”
(WS Rendra)
Orang-orang Miskin
…
| Red-Joss.com | Paradoks (paradoxon) Yunani: pernyataan yang seolah-olah bertentangan atau berlawanan dengan asumsi umum, tapi dalam kenyataannya mengandung sebuah kebenaran.
Sebuah Polaritas
Di sisi lain, dalam sebuah paradoks/kontradiksi (polaritas) tersembunyi sebuah ironi. Mengapa? Karena di dalamnya mengandung unsur-unsur yang bertentangan antara fakta ideal dengan kenyataannya. Jadi, dalan konteks ini, sebuah paradoks dapat berupa sebuah ironi pula.
Tulisan ini diturunkan, karena saya terinspirasi oleh tulisan Alisa Wahid yang berjudul Paradoks, dalam kolom Gaya Hidup, Kompas, Minggu, (11/8/2024).
Pertanyaan Retoris
Dalam paragraf ketiga dan empat tulisannya, Yeni mempertanyakan, kini masih selaraskah keadaan bangsa kita dengan analisis yang dilontarkan oleh Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaan, 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta?
Mochtar Lubis menjabarkan enam kecenderungan manusia Indonesia, yakni munafik atau hipokrit, enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya, berperilaku dan bersikap feodal, percaya takhayul, artistik, dan berkarakter lemah.
Selanjutnya beliau mengakui, bahwa sayang, karena kita belum memiliki pengukuran ciri sikap pembanding dengan kondisi riil saat ini, demikian Yeni.
Kondisi Riil serta Ironi
Dalam paragraf kelima belas – sembilan belas (15-19) tulisannya, beliau menampilkan sejumlah kondisi serba paradoks antara fakta dan kenyataan miris yang bersifat ironi saat ini (2024).
(1) Tanah air kita cukup kaya, tapi sebagian masyarakatnya masih terhimpit kemiskinan, bahkan kemiskinan ekstrem.
(2) Tanah Papua, tanah dengan sumber daya alam terbesar, menjadikan tanah paling kaya, tapi kualitas hidup dan kualitas sumber daya manusianya tidak juga dapat diangkat oleh negara.
(3) Rakyat kita percaya dan patuh kepada pemimpinnya, tapi banyak pemimpinnya yang tidak dapat dipercaya, banyak pula yang terlibat korupsi kekuasaan dan korupsi keuangan yang notabene milik rakyat.
(4) Bangsa kita suka bermusyawarah, tapi nasib bangsa ditentukan oleh segelintir orang berpengaruh.
(5) Negara membuat begitu banyak aturan seperti aturan lalu lintas, tapi sejumlah besar orang tidak menaatinya.
(6) Indonesia jadi negara yang paling religius di dunia, tapi perilaku melanggar aturan agama makin menjadi-jadi. Banyak pemuka agama menjelma jadi politisi. Banyak politikus berjubah agamawan.
(7) Banyak yang mengaku mengagungkan Pancasila, tapi masih banyak yang tidak mampu menjalankannya. Bahkan pun pemerintah dan penyelenggara negara.
Setelah Anda membaca dan mencermati dengan saksama tulisan ini, apa komentar dan kesan Anda?
Benarkah terdapat aneka sendi kehidupan yang dalam praktiknya justru serba paradoks?
Quo Vadis Bangsaku?
…
Kediri,ย 13ย Agustusย 2024

