“Tapaki jalan peziarahan ini atas dasar cinta agar kita nikmati hidup bahagia.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Semula saya ingin pulang kampung. Mudik. Anak-anak sudah mentas dan mandiri. Saatnya kami berdua menata kehidupan kembali.
Istri setuju. Kami ingin membangun rumah singgah di kebun belakang yang cukup luas itu. Sedang rumah induk yang termasuk cagar budaya itu untuk resto.
Saya ingin resto itu nanti dikelola teman-teman lansia. Selain untuk bernostalgia, kami juga ingin memberdayakan sesama, dan semua itu dijamin gayeng. Apalagi rumah kami berseberangan dengan Gereja J!
Ketika kami mengemukakan ide itu, dengan tegas anak-anak menolak, alias tidak setuju. Alasan mereka, siapa yang mengurusi Ibu Bapak, jika sakit? Karena jauh, apalagi malam hari.
Saya mencoba memberi pengertian ke anak. Di mana pun kami berada, di situlah keluarga yang terdekat. Resepnya, yang penting kita bisa membawa diri dan luwes.
Jika saya ingin membangun rumah singgah dan membuka resto itu tidak lebih untuk mengisi kegiatan di hari tua agar tidak cepat pikun. Saya juga ingin dimakamkan di kampung, jika kelak meninggal.
“Ibu Bapak bisa mencari kesibukan lain atau aktif di Gereja lagi.”
Anak-anak benar. Jika dulu mereka mendukung saya membeli properti itu. Bahkan mereka ingin menemani kami. Kini mereka menolak, karena mempunyai kesibukan sendiri.
“Lebih baik kita dekat keluarga, Mas,” saran istri.
Saya diam. Terpampang jelas di ingatan, jika mudik liburan bersama mereka yang antusias sekali. Apa karena terlalu sibuk, sehingga waktu mereka untuk orangtua juga makin berkurang?

Saya belajar untuk melihat realita dan memahami mereka yang sudah mentas dan mandiri. Selain itu, istri juga tidak sepenuh hati mendukung proyek idealisnya lagi. Karena ingin menemani dan dekat dengan anak.
Kuhela nafas panjang. Apakah saya harus nekat tanpa dukungan istri? Apakah properti itu dibiarkan saja mangkrak? Jika sayang, adakah teman yang mau diajak bekerja sama?
Ketika pikiran ini buntu, saya segera ‘sowan Gusti’ untuk menenangkan diri dan mohon solusi. Antara proyek idealis dan dekat dengan keluarga. Saya percaya, Tuhan selalu memberi lebih dari yang didoakan dan diharapkan.
Jalan cinta itu tanpa egois. Apa pun yang dijalani dengan ikhlas hati itu untuk kebahagian semua.
Berserah pasrah pada kehendak Tuhan, karena semua itu milik-Nya (Mazmur 55: 22).
…
Mas Redjo


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.