Simply da Flores
…
1.
Hujan Rindu Awal Agustus…
Sejak sore
Air mata langit mengalir deras
Terpaksa aku berteduh di warung kopi
nikmati pahitnya perjalanan nasib
ketika sendiri melerai gulita arah
dalam kelana mengejar cahaya fajar
melintasi belantara ruang Nusantara
Aku seruput hitam kopiku
aku jadikan nikmat pahitnya nasib
Dan
derasnya rinduku berlari bersama hujan
entah nanti mengalir ke mana
entah ada cangkir rindu menadah
entah di mana mesti bercerita
Merah Putih awal Agustus
wajahnya basah diguyur air mata langit
raganya becek dilumuri nasib anak negeri
Hitamnya kopi seperti gulita nasib
Semua ada dan terjadi
sambut pelangi HUT NKRI -79
Sang Saka berkibar di cakrawala Kathulistiwa
2.
Antara Jadwal Pilkada dan Ongkos Politik
Gebyar Pilkada terus menggelora
Ada pemilihan paket Bupati dan wakilnya
Ada pemilihan paket Walikota dan wakilnya
Ada pemilihan paket Gubernur dan wakilnya
Terjadi di berbagai wilayah negeri ini
sesuai jadwal tahapan pilkada yang ditetapkan KPU
Sekarang pada tahap pendaftaran paket calon
ada yang melalui jalur parpol
ada yang melalui jalur independen
Yang menarik adalah banyak yang mencalonkan diri
untuk merebut kursi jabatan eksekutif tersebut
dengan segala upaya yang dilakukan
Tetapi…
ada kondisi kritis yang dialami
Ongkos politik rupanya tidak murah
untuk dapatkan dukungan parpol perlu membayar mahal
untuk memperkenalkan diri perlu biaya
untuk kampanye meraih dukungan suara juga harus uang
untuk tim sukses dan saksi juga perlu ongkos
Ketika jadwal tahapan pilkada tak menunggu
siap atau tidak para bakal calon kontestan
Maka
ada pertaruhan soal waktu dan isi dompet
Politik harus punya ongkos
Meraih jabatan politik butuh biaya
Jadi
semangat dan kata-kata tak cukup
Sehingga jabatan politik sering tergantung uang mampu membayar atau mereka yang punya ongkos politik
karena ada cukong atau donor politik
karena ada kepentingan yang hendak dicapai dengan ongkos itu
3.
Berkibarlah Merah Putih-ku
Bendera Merah Putih aneka ukuran
sedang mewarnai wajah negeri
Ada bendera-bendera kertas
sering untuk hiasan dan mainan anak
Ada bendera dari kain untuk dikibarkan
Ada hiasan merah putih tetapi bukan bendera
Ada bendera pusaka yang menjadi sejarah
Ada duplikat bendera pusaka yang dikibarkan saat apel khusus di Istana Negara pada HUT Proklamasi NKRI
Merah dalam darah semangat segenap pejuang dan pahlawan Kusuma Bangsa
Merah dalam komitmen pelaksanaan tugas para pejabat negara
Merah dalam nafas seluruh rakyat NKRI
Putih nurani dan jiwa pengorbanan segenap pendahulu
Putih kejujuran diri semua pemimpin
Putih rindu damba anak-anak pewaris bangsa
Putih iman hakikat pribadi di hadapan Sang Maha Melihat
Adakah Merah Putih dalam diri pribadiku?
4.
Menelisik Fakta Lagu Indonesia Raya
Kumandang lagu Indonesia Raya
penuh khidmat dan kaya makna
warisan semangat dan doa para pendahulu
Doa dan amanah para Pahlawan Bangsa
“Bangunlah jiwanya
Bangunlah raganya
Untuk Indonesia Raya”
Namun,
jiwa sanubarinya, hati nuraninya
seperti diabaikan demi raga dan harta saja
demi kepuasan selera gengsi dan rasa…
“Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku”
sedang diserbu pemilik modal demi menguras isinya dan menguasai tempatnya
Lalu
Anak negeri merana di tengah kelimpahan
Pewaris bangsa tergusur dari tumpah darahnya
Banyak pengangguran dan bocah stunting
Terus bertambah kasus hukum, sosial dan moral
Alam semakin rusak dikuras para maling
Bahkan Lagu Indonesia Raya makin dilupakan
“Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku
Bangsaku rakyatku, semuanya…
Indonesia Raya, merdeka.. merdeka.”
Korupsi terus menjadi budaya dan kebanggaan para pelakunya
Hutang Negara semakin melilit
Sumber daya alam terus dikuras dan dirampok…
Hukum menjadi tameng koruptor dan pejabat rakus
Neo-kolonial dan Kapitalis berpesta pora menjajah bangsa dan NKRI
ketika para pemimpin bangsa bisa dibeli
Inilah kemerdekaan uang berumur 79 tahun?
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

