“Berbuat baik, karena ada maunya itu biasa. Tapi jadi luar biasa, ketika kita mengajak orang jahat itu untuk bertobat.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | “Aku melihat NT kerja di tempatmu. Kau tidak takut NT aneh-aneh dan suloyo?” tanya Yoe, ketika mampir di bengkel tempat saya memberi pelatihan gratis pada mereka yang ingin belajar dan membuka bengkel las bubut untuk mandiri.
“Lho?! Bengkel las bubut ini terbuka untuk umum,” kata saya santai.
Yoe yang terus nerocos itu tidak saya tanggapi, sehingga membuat ia makin jengkel.
“Sori, Yoe. Lebih bijak, kita memberi kesempatan orang untuk berubah dan perbaiki diri jadi baik, daripada kita menghakimi dan menutup hati,” tegas saya yang membuat Yoe terdiam.
Saya memahami perasaan Yoe yang terluka, karena dikhianati NT, sehingga usahanya berantakan, bahkan nyaris bangkrut.
Saya tidak menolak NT belajar las bubut, karena pesertanya tidak dibedakan. Maaf, saya juga tidak melihat latar belakang mereka. Visi dan misi saya itu memberi pelatihan gratis, tidak yang lain!
Saya mengajar ketrampilan las bubut itu ibaratnya untuk perbaiki diri sendiri. Yang keropos berkarat itu harus dibersihkan, diperbaiki, dan dilas, lalu dicat lagi agar tampak baru kembali. Karena itulah inti hidup pertobatan ini. Tinggalkan manusia lama untuk jadi baru! (2 Korintus 5: 17)
Tuhan selalu memberi kesempatan pada kita untuk berubah, mengapa kita mudah sekali menghakimi dan menutup hati, sehingga kehilangan kasih-Nya?
Melihat orang ingin berubah jadi baik itu harus disambut gembira dan disyukuri. Mereka harus didampingi, dibimbing, diarahkan, dan didoakan agar tabah menapaki jalan hidupnya.
Semoga mereka memperoleh hidup yang baik dalam menyongsong masa depan yang kian cerah.
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

