“Hidup adalah perjalanan tidak berkesudahan untuk berbuat dan jadi baik dan benar demi Kerajaan Surga” (Mat 13, 44-46). ‘Urip tetep urup’, kendati hidup ini sering kali tidak dapat diduga.
Untuk tidak berhenti hidup baik dan benar itu dibutuhkan sikap ‘tabayyun’ dan ‘tawadhu’. Itulah bilah pikir dan hati yang menyatu dalam kisah 5 roti 2 ikan.
Dengan menerapkan sikap ‘tabayyun’, membantu setiap orang mengurangi godaan penyebaran informasi palsu, menghindarkan fitnah, dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih jujur dan akurat. Fitnah dan konten yang menyesatkan sering tersebar di sekitar kita, di media, baik digital maupun faktual sebagai fakta hidup yang menyertai pertumbuhan iman (gandum dan ilalang tumbuh bersama).
Secara bahasa ‘tabayyun’ artinya mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas dan benar keadaannya, sebelum membuat keputusan penting.
“Apa yang kubawa dan apa yang kutanggalkan demi Surga?”
‘Tabayyun’ akan tidak mudah dijalani tanpa sikap ‘tawadhu’.
Pengertian ‘tawadhu’ adalah rendah hati, tidak angkuh. Orang yang ‘tawadhu’ adalah orang yang menyadari dan percaya, bahwa kebisaan yang didapatnya itu bersumber dari Allah, tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Misal jabatan yang kita miliki. Jabatan itu akan ada makna sempurna hanya, jika dibagikan untuk kebaikan banyak orang.
Pilihannya adalah apa dan berapa yang dibagikan? Korupsi itu bukan hanya duit, tapi bisa juga hak sesama, terutama mereka yang kecil, tak terdengar dan tak terlihat. Sikap ‘tawadhu’ akan membebaskan setiap orang dari ‘slintat-slintut’ tidak jelas.
Salam sehat. ‘Have a great day’.
…
Jlitheng.

