| Red-Joss.com | Ibarat bermimpi di siang bolong, hal yang mustahil dan tidak masuk di akal. Ketika saya diundang panitia penyambutan Paus Fransiskus di Indonesia.
Siapa dan apa artinya saya? Selain bukan siapa-siapa, saya adalah umat biasa, warga Gereja SB yang umatnya lebih dari 12ribuan itu.
Bagaimana tidak. Gereja SB yang memiliki 21 Wilayah itu berhak diwakili 86 (Lingkungan) orang. Sebagai lansia, saya ingin sekali mendaftar untuk menyambut kedatangan Paus Fransiskus dan mengikuti misa akbar di Stadion Gelora Bung Karno (GBK).
Di sisi lain, saya juga harus tahu diri. Karena pesertanya dipilih, dan saya ingin memberi kesempatan pada mereka yang lebih muda. Lalu…?
Saya mengkhayal, seandainya saya aktivis, mempunyai banyak relasi, atau wartawan. Saya ingin hadir. Apalagi memperoleh kesempatan bertatap muka, mewawancarai Paus Fransiskus yang karismatik dan pemimpin umat Kristiani 1,2 milyar itu!
Paus Fransiskus yang sepuh (87) itu memotivasi dan menginspirasi saya agar tidak kenal lelah dalam melayani sesama, apa pun peran dan pfofesi kita!
Karena itu saya tidak mau pensiun. Hidup ini harus dimaknai. Sebab mempensiunkan diri tanpa aktivitas itu membuat tubuh ini jadi lemah dan mudah terserang sakit.
Saya tidak mau cepat pikun, meski usia saya menjelang kepala tujuh. Untuk menjaga tubuh tetap bugar, saya rajin jalan kaki, berolah rasa, pikir, dan hati agar sehat jasmani-rohani.
Bagaimana pun caranya saya akan berupaya untuk hadir mengikuti Misa Akbar di Sadion GBK itu. Saya lalu mengurai jaringan relasi dengan teman-teman. Jikapun belum beruntung, saya tetap bangga sebagai umat Kristiani. Karena Paus Fransiskus berkenan hadir untuk mengunjungi, menyapa, dan memberkati umatnya di Indonesia.
Saya sabar menunggu hari yang bersejarah itu. Meskipun saya harus mengikuti misa akbar itu depan televisi. Saya mohon diberkati oleh Bapa Paus Fransiskus yang saya kagumi dan cintai…
…
Mas Redjo

