| Red-Joss.com | Kisah mukjizat 5 potong roti dan 2 ekor ikan sumbangan anak itu, memuat makna hakiki hidup gereja di masa lalu, kini, dan mendatang.
Roti, makanan yang juga disantap oleh Yesus pada Perjamuan Akhir dengan para murid-Nya, adalah esensi (akar) dari Gereja dan ikan yang dalam Bahasa Yunaninya ‘Ikhthus’ adalah simbol bagi kekristenan awal, yang percaya pada Yesus sebagai Juru Selamat. Tidak ada Gereja tanpa Kristus. Gereja itu bukan kumpulan umat biasa. Jika Gereja umpama pohon, dia pasti mati tanpa akar. “A tree without roots dies.”
Mereka, 5000 lelaki dan perempuan plus anak-anak, yang ada dalam kisah hari ini adalah pengagum Yesus. Mereka tidak boleh ditelantarkan, artinya jangan sampai lepas dari akarnya, yakni Yesus.
Gereja akan hidup (iman), kalau makan (punya akar) dan akarnya yakni (Ekaristi, firman, doa dan amal kasih) tidak bisa diganti dengan gedung, kolam semèdi, dan sebagainya. ‘Roti hidup itu’, adalah Yesus sendiri.
Pertanyaannya: “Siapa yang bertanggung jawab?”
Jawabannya: Dewan (dari yang Inti sampai yang di grass root). Banyak sekali umat sederhana dan biasa (yang dihadirkan dalam diri anak pemilik ikan dan roti), mereka mempunyai sesuatu, yang siap disumbangkan, tapi… bukan untuk ditimbun membangun kolam prestasi, sebaliknya adalah untuk dibagikan … sekali lagi dibagikan kepada semuanya, 5000 laki-laki plus yang lain, supaya tidak terlantar dan lari ke mana-mana, cari makan sendiri.
Di atas semua itu, umat tidak boleh terhalang untuk melihat Yesus oleh kemegahan dan prestasi-prestasi duniawi.
Salam sehat. Salam 5 roti dan 2 ekor ikan.
…
Jlitheng

