| Red-Joss.com | Pilihan kepala daerah tahun 2024 ini belum dikaksanakan. Tapi genderang perang para calon sudah riuh ditabuh. Mengasyikkan!
Lebih asyik lagi, jika nonton sepak terjang, polah tingkah, lagak lagu, gaya, tipu daya, bujuk rayu, dan juga sandiwara yang mereka mainkan. Semua menebar pesona. Ada yang elegan, intelek, murahan, bahkan ada yang norak.
Padahal, dalam setiap peristiwa hidup manusia selalu ada peran invisible hand atau providentia Dei campur tangan Yang Kuasa.
Tapi, masihkah providentia Dei itu menyapa hati dan tiap langkah hidup mereka? Bahwa tidak ada satu pun dari hidup ini yang lepas dari kendali Ilahi?
Tentang providentia Dei itu pernah jadi perbincangan hangat di level lingkungan. Mengapa orang yang nyinyir, pembuat onar, suka mempermainkan nasib orang lain, seperti lancar-lancar saja hidupnya? Tuhan ada dimana? Tidak jarang ada warga yang jadi cuek, nutup diri, mlempem, tawar iman, suam-suam, atau sulit diajak berkumpul.
Ketika temu warga itu datang, di hadapan warga, Ketua Lingkungan bercerita: “Ada seorang ayah memiliki tiga anak, masih kecil. Anak pertama laki-laki, akan ia jadikan pengusaha kaya. Anak kedua, laki-laki akan ia jadikan pemain basket yang terkenal, dan anak ketiga, perempuan jadi ibu rumah tangga saja, dinikahkan kalau sudah cukup umur.“
Mendengar cerita Kaling ini, kontan warga memaki-maki si ayah di dalam cerita yang bersikap jahat, tidak adil untuk anak perempuan satu-satunya. Mereka berkata, kalau ayah itu seorang yang baik tidak mungkin ia merencanakan sesuatu yang tidak adil untuk anaknya.
Setelah reda, Kaling pun berkata : “Begitu pula dengan Tuhan. Tuhan itu baik, tidak mungkin Tuhan merencanakan ada yang kaya dan miskin, ada yang bahagia dan derita. Pasti ada yang salah di dunia ini dan itu bukan kesalahan Tuhan. Mungkin kita yang kurang peduli, hambar dalam iman, hambar kepedulian dan hambar berbagi.
Menjadi pengikut-Nya bukan tentang tebar pesona, tapi tentang tebar cahaya.
Salam sehat dan jadilah terang.
…
Jlitheng

