Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ciptaan Tuhan selalu sempurna.”
Konon, suatu hari, seorang musafir melintasi perkebunan semangka yang sarat berbuah.
Menyaksikan betapa lebat dan besarnya ribuan buah semangka ranum, sang musafir itu berguman:
“Apakah Tuhan tidak keliru, menciptakan tumbuhan semangka yang sangat besar buahnya, tapi betapa kecil dan merana batangnya yang menjalar serta merangkak di atas tanah.
Sedangkan, sebatang pohon beringin raksasa di sampingnya tampak anggun, tapi dengan buah-buahnya sangat kecil.”
Karena udara panas, musafir itu berteduh di bawah rimbunan pohon beringin raksasa itu.
Saat musafir itu mulai terlelap, dia dikejutkan oleh sesuatu yang terasa menimpah dahinya.
Betapa dia terperanjat, karena yang menimpah dahinya itu ternyata buah beringin yang jatuh.
Musafir itu terbangun dan dia merefleksikan, andaikan buah pohon beringin sebesar buah semangka, tentu sudah pecah dahi ini.
Untung yang jatuh dan menimpa dahinya itu buah beringin dan bukan buah semangka.
Spontan terlontar dari mulutnya, “Tuhan, ternyata betapa luhur segala rancangan-Mu, dan betapa kerdilnya manusia ini.”
Sang musafir pun mulai teringat akan seluruh kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Ada siang dan malam. Gelap dan terang, susah dan senang, bahkan ada hidup dan mati.
Betapa luhur segala rencana Tuhan bagi manusia!
…
Kediri, 28 Juli 2024

