“Keegoisan itu menjauhkan, bahkan memisahkan dan menceraiberaikan hubungan. Tapi kebersamaan untuk mengasihi satu dengan yang lain itu menyatukan dan membahagiakan jiwa.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Selalu ingatkan diri sendiri untuk mendulukan kepentingan keluarga membuat saya cermat, bahkan ‘pelit’ dalam mengunakan uang. Khususnya untuk kesenangan pribadi.
Setiap kali mengirim barang, jika saya ingin makan yang enak di warung, misalnya. Saya ingat orang di rumah, anak istri makan apa? Sehingga saya memutuskan makan di warteg.
Selalu mengutamakan kepentingan keluarga itu terpatri dalam pikiranku yang dihidupi dari semangat (alm) Ibu Bapak yang penuh sukacita dan saling mengasihi. Bahkan saya belum pernah melihat Ibu Bapak berselisih di depan anak-anaknya. Ternyata, jika Ibu Bapak mempunyai ganjelan itu diselesaikan di kamar, atau ketika anak-anaknya tidak di rumah. Tujuannya agar anak-anaknya tidak melihat perselisihan itu, sehingga hatinya tidak sedih, salit, atau trauma.
Saya pernah melihat orangtua berselisih, ketika saya pulang main. Tapi langsung berhenti saat saya menuju ke kamar saya.
Ibu Bapak hampir tidak pernah marah pada kami, anak-anaknya kecuali sekadar mengingatkan dan menasihati. Bahkan Bapak pernah menegur, ketika saya menakut-nakuti adik yang main di loteng sendirian, karena ada setan. Atau main loncat-loncatan di kasur busa, jika per pegasnya jebol itu dapat melukai kaki.
Alasan Bapak, agar adik tidak jadi penakut, tapi pemberani. Jika saya mengingatkan adik itu alasan yang masuk logika, tidak kasar, dan caranya benar. Peran dan tugas Kakak itu sebagai pengawas, pembimbing, dan melindungi adik.
Tidak hanya itu. Ternyata kebiasaan Ibu Bapak mengenalkan anak-anaknya untuk memberi salam pada tamu-tamunya itu supaya kami mempunyai etika, sopan, dan hormat pada orangtua. Tujuannya agar kami pandai membawa diri dan beradaptasi dengan orang lain.
Ibu Bapak mendahulukan adab agar anak-anak miliki karakter baik dalam hidup bermasyarakat. Sehingga mereka tidak risau atau takut, jika suatu saat anaknya hidup di rantau.
Teladan Ibu Bapak itu saya terapkan dalam hidup berkeluarga. Juga saya wariskan pada anak-anak agar mereka miliki semangat peduli untuk saling membantu dalam kesulitan atau kesusahan (Galatia 6: 2).
Mewariskan keteladanan dan iman itu lebih bernilai mahal, ketimbang materi. Semangatnya adalah, dengan mengasihi saudara, kita hidup di dalam terang-Nya (1 Yoh 2: 10).
…
Mas Redjo

