Fr. M. Christofotus, BHK
“Akulah yang akan Menentukan, Siapakah Aku Ini?”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
Manusia hanya Memiliki ‘Tiga Hari Hidup’
Setiap pribadi tentu memiliki sejumput pengalaman yang sangat personal di masa lalunya. Baik itu berupa pengalaman indah dan manis memesonakan, juga memori getir pahit pedih yang menyayat kalbu di dada.
Riil pula, bahwa ada hari yang lalu. Saat itu, kita dilahirkan, dididik dan diasuh orangtua dalam proses waktu yang panjang.
Di saat sebagai bocah kecil, kita diajak dan diantar ke sekolah. Ada yang takut, malu-malu, ada yang menangis, tapi ada pula yang sangat riang. Itulah variasi masa lalu kita.
Bahkan mungkin, di saat sekolah dan bersosialisasi dalam masyarakat, kita dianggap sebagai pribadi yang baik, mungkin pribadi yang ditolak, dan bahkan ada yang meninggalkan luka batin.
Bagaimana dengan realitas hidup Anda / kita di hari ini? Apakah sebagai orang sukses dan beradab ataukah sebagai pribadi yang tersingkir dan terbuang serta disepelekan?
Hari ini, di zaman yang dianggap sebagai Zaman Keemasan teknologi canggih yang jadi santapan instan kaum Generasi Z, apa dan bagaimana keadaan Anda dan saya?
Itulah realitas hidup kita hari ini. Apakah mirip, tetap sama seperti keadaan kita di hari kemarin, ataukah kita justru sudah didaulat sebagai pribadi sukses?
Juga masih ada hari yang melekat dalam angan-angan dan harapan di dada dan cita-cita kita, ialah hari esok.
Sebuah hari penuh impian, karena saat itu belum kita lewati, dan alami. Hari yang tentu, bagaikan sebuah mimpi malam antara sukses atau melarat.
Menurut orang bijak pandai, bahwa kondisi riil kita hari ini, akan sangat menentukan bagaimana sikon riil di hari esok alias hari depan. Hal itu, tentu ada benarnya, bukan?
Berbakti dan berdoalah, agar Anda dan saya, kita dapat memasuki hari esok dengan penuh senyum ria dan bukan dengan segudang mala petaka.
Sejatinya, kita tidak arif, jika kita sekadar memimpikan sebuah hari esok lewat impian palsu dan hidup berpangku tangan atau semau gue.
Kita, di hari ini, perlu bergiat dan berusaha keras untuk menyongsong hari esok yang lebih cemerlang dan bahagia. Semuanya itu tentu sangat bergantung dari kesiagaan Anda dan saya di hari ini.
Ya, itulah kehidupan. Realitas hidup, antara pahit pun manis.
Hari depan adalah perjuangan dan tekad hidup mati dari Anda dan saya di hari kemarin dan hari ini.
Hari esok sejatinya pengejawantahan dari, siapakah saya di hari kemarin dan hari ini!
Hanya Andalah yang menentukan, siapakah Anda di hari esok!
…
Kediri, 27 Juli 2024

