| Red-Joss.com | Kursi kekuasaan itu mahal. Kursi kekuasaan itu mengiurkan dan diperebutkan. Pertanyaannya, berapa yang bisa bekerja dan melayani, setelah duduk di kursi kekuasaan itu?
Untuk direnungkan bagi mereka yang sedang berkuasa:
“… barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah dia menjadi pelayanmu” (Matius 20: 26).
Makin kita berkuasa, kian besar tanggung-jawab dan tuntutan agar kita bekerja dan melayani dengan baik.
Peluang untuk jadi orang besar dan hebat itu ada di kursi kekuasaan. Karena dengan komitmen tinggi untuk bekerja dan melayani, maka dengan sendirinya akan mendapatkan apresiasi yang tinggi pula dari yang dilayani.
Berbeda kelasnya dengan yang ‘merebut’, mendapatkan kekuasaan itu dengan tujuan hanya untuk berkuasa. Memang akhirnya berkuasa, tetapi cara ‘merebut’ kekuasaan itu tidak benar. Misalnya, meski diingatkan berulang-ulang, maaf, orang yang tidak berpendidikan juga tahu peringatan-peringan itu, tetapi tetap dilakukan. Contohnya…
- Isu SARA, tetap dilakukan. Sebab isu ini murah, mudah membakar, dan mengubah cara berpikir, karena ada sentimen tertentu.
- Kampanye gelap, tetap dilakukan. Sebab isu ini bertujuan untuk memperburuk dan menjelek-jelekkan. Orang mudah terpancing dengan isu-isu yang buruk. Emosi dimainkan.
- Isu hoaks yang gencar dikirim lewat media sosial dan pembuatan-pembuatan spanduk yang liar tanpa tuan. Isu ini adalah isu yang terorganisir.
- ‘Money politic’. Uang selalu bermain di tengah perebutan kekuasaan. Maka dikatakan di atas, kursi kekuasaan yang mengiurkan dan diperebutkankan itu harganya sangat mahal. Satu-satunya yang bisa membeli, mendapatkannya adalah uang. Memiliki banyak uang. Mau sampai kapan perebutan kekuasaan tanpa menggunakan uang?
Kembali dengan pesan Yesus kepada murid, karena beberapa murid-Nya berambisi untuk berkuasa. Tidak bisa tutup mata, di tengah pelayanan Gereja ada juga keinginan duduk di kursi kekuasaan itu. Tapi mau bagaimana, karena kekuasaan itu mengiurkan dan mengoda. Semoga yang berambisi seperti itu sadar diri.
Yang jelas, Yesus ingin, supaya kita fokus pada pelayanan dan bekerja. Jika kita bekerja dan melayani dengan hati, maka orang yang kita layani akan mendudukkan kita pada posisi kekuasaan itu. Artinya, ada ‘orang besar’ yang didudukkan di situ, karena berkualitas, integritas, sikapnya terpuji, dan semangatnya yang tinggi untuk terus bekerja dan melayani. Tidak menggunakan tangan besi untuk memerintah, tapi dengan hati yang tulus melayani.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

