Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Maraknya Guru besar abal-abal yang diberitakan akhir-akhir ini menunjukkan martabat perguruan tinggi (PT) telah runtuh, jauh dari kesan terhornat, baik dari segi etik, hukum, maupun politik.”
(Supriadi Rustad)
…
Guru Besar Universitas Dian Nuswantoro
Harian Kompas, menurunkan sebuah Opini berjudul, “Kampus Kehilangan Martabat” (17/7/2024) oleh Supriadi Rustad.
Sedangkan kolom Opini “Surat kepada Redaksi” Kamis (18/7/2024), Nahlu Hasbi Heriyanto, (Arosbaya, Bangkalan, Jawa Timur) menulis, “Guru Besar Abal-abal.”
Berkomplot dengan Oknum
Setelah mencermati dengan saksama roh dan isi dari kedua buah tulisan ini, saya spontan menarik nafas sangat panjang dan perlahan mendengus.
Nurani murni ini bertanya, “Ada apa dan mengapakah manusia Indonesia itu selalu doyan untuk bersikap nyeleneh?”
“Kambing congek memilih akrab dengan para tokoh kehormatan antagonis, di sisi lain berwatak begis terhadap dosen dan bawahannya sendiri, seperti memecat dosen tanpa alasan jelas. Kambing congek telah menancapkan jangkar ketidakadilan hukum di kampus.” Demikian tulis Supriadi.
Supriadi, selalu seorang Guru Besar membeberkan tentang rendahnya kualitas para Guru Besar yang cenderung tunduk kepada otoritas bangsa ini.
Beliau bahkan sampai berani menggunakan idiom “kambing congek” untuk mendeskripsikan kelakuan para Guru Besar yang sepak terjangnya bahkan dapat menghilangkan martabat sebuah kampus.
Guru Besar Abal-abal
“Dalam dunia yang seharusnya berorientasi pada kualitas, keberadaan Guru Besar tanpa integritas jadi bencana yang mengancam masa depan pendidikan kita,” demikian tulis Nahlu Hasbi Heriyanto.
Beliau berpendapat, bahwa para Guru Besar kita selalu mencari celah untuk menggampangkan mahasiswa untuk sekadar lulus kuliah.
Tidak ada suasana keilmiahan di saat proses berkuliah. Mahasiswa tidak ditantang untuk berpikir, malah berusaha mencari celah agar segera lulus.
“Lulus, sudah cukup!” Mungkin adalah moto mereka. Bahkan di ruang kuliah mereka selalu mengulang materi yang sama setiap tahun.
Lewat tempelan gelar-gelar yang berkilau di depan atau di belakang nama, mereka pun mengeluarkan aneka jargon ilmiah yang membuat para mahasiswa jadi terkesima. Padahal sejatinya hal itu hanyalah sekadar berkamuflase.
Mencermati kedalaman dari roh dan amanat terselubung dari tulisan ini, apa yang perlu kita lakukan sebagai warga dari bangsa yang terhormat ini?
“Jangan biarkan gelar jadi sekadar hiasan. Pendidikan harus bermakna dan menghasilkan lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa,” demikian Nahlu Hasbi menutup tulisannya pada kolom pembaca.
Para Guru Besar, apa yang masih kamu cari di balik kemapanan gelar dan predikatmu?
“Quo Vadis, wahai para anak bangsa dari Negeri terhormat ini?”
…
Kediri, 20 Juli 2024

