Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pendidikan sejati adalah lebih dari sekadar mendidik pikiran. Ia harus mendidik hati.”
(Aristoteles)
…
Tulisan berlatar belakang refleksi proses edukatif ini, sejujurnya lahir dari pergolakan dan pergulatan nuraniku saat menyaksikan serta mengalami, bagaimana kondisi morat-maritnya keadaan sistem pendidikan di negeri kita.
Tantangan Pendidikan Kita
Sebuah pertanyaan reflektif retoris, “Apa landasan dasar dari seluruh proses edukasi di negeri kita ini sejak dari zaman kemerdekaan hingga zaman reformasi ini?”
Sejujurnya, sudah banyak tantangan dan air mata dari masyarakat kita, juga berupa kritikan tajam, tapi masih saja bagai lingkaran setan peliknya pendidikan kita. Toh hingga kini kondisinya masih saja ibarat setali tiga uang. Maka, ada apa dan mengapa demikian?
Sebagai sebuah wadah studi intelektual, saya menyodorkan pola dan esensi dasar pendidikan utuh ala pemikiran sang filsuf agung, Aristoteles.
Pendidikan Utuh
Saat bersama para muridnya, filsuf Aristoteles mengajukan sebuah pertanyaan, “Para muridku, apa yang terlintas di dalam pikiranmu, di saat kamu mendengar kata pendidikan?”
Sesaat kemudian, Alexios (murid pertama), berkata, “Saya berpikir tentang bagaimana saya belajar untuk membaca, menulis, dan berhitung, Guru.”
“Benar, tapi itu belumlah lengkap, itu baru sebagain kecil saja,” sahut sang Guru.
Murid kedua, Eirene, “Guru, mungkin juga belajar tentang ilmu pengetahuan, Sejarah, dan juga ilmu Filsafat?”
Sang Guru mengangguk-anggukan kepala. “Ya, hal itu juga amat penting, namun pendidikan itu bukan sekadar mengisi kepalamu dengan ilmu pengetahuan.”
Kini tak kalah cerdas sang murid ketiga, Niketas, “Setuju Guru, tetapi apalagi yang lain itu?”
Kini, dengan wajah sangat serius, sang filsuf itu memandang para muridnya sambil berkata, “Pendidikan sejati adalah lebih dari sekadar mendidik pikiranmu. Ia harus juga mendidik hatimu.”
Mendengar tuturan penuh makna dari sang Guru, kini Alexios pun bertanya, “Apa maksud Guru, dengan pendidikan hati?”
“Mendidik hati itu bermakna, bahwa pendidikan sejati itu wajib mengembangkan karakter dan moral para murid.” Itu berarti, para murid perlu belajar agar ia dapat jadi orang baik, berpribadi jujur dan adil, serta bijaksana.
(Dari berbagai sumber)
Mencermati roh dari spirit dialog antara Guru – Murid ini, apa yang dapat Anda konklusikan?
Sebuah pertanyaan kritis, “Mana yang lebih utama dan penting, orang yang pintar ataukah orang yang bermoral?”
Sang filsuf dengan gaya orator pun berdendang, “Jika pendidikan kita hanya bertujuan mengisi kepala, maka kita ibarat sebuah kapal yang tidak dapat dikendalikan!”
Lalu apa esensi dasar dari seluruh proses edukasi?
Bukankan edukasi itu adalah proses “homo humanus?” “Proses pemanusiaan sang manusia!”
…
Kediri, 17 Juli 2024

