Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hidup bagaikan percikan bunga-bunga lidah api yang terserak-serak berceceran.”
(Didaktika Lidah Hidup Sang Kebijaksanaan)
…
Kehidupan Manusia adalah sebuah Berkat
Manusia itu memang riil hidup, bergerak, dan hadir di atas bumi maya ini.
Itulah sebuah eksistensi dari suatu ada dan keberadaannya. Sebuah realitas hadir dan adanya nyata sebagai sebuah fakta riil.
Tulisan reflektif ini mau mendeskripsikan tentang kualitas ziarah hidup dan kehidupan manusia yang merupakan sebuah berkat dari Tuhan (gratis dei) yang patut disyukuti oleh insan manusia itu.
Tiga Butir Ceceran Hidup
“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan sekeping nama” (Pepatah Bangsa).
Sadar atau tidak, bahwa sejatinya, manusia itu hidup di atas bumi maya ini hanya sebuah kesementaraan.
Riil pula, bahwa manusia itu seolah sudah kalah duluan dalam bertarung melawan maut. Mengapa? Karena mau atau tak mau, sudi atau tak sudi, sang arifin itu kelak akan mati juga, bukan?
Setelah dia beranjak pergi dari kemah kediamannya ini, maka dia akan meninggalkan sebuah warisan hidup. Apa itu?
Ya, warisan itu berupa apa saja. Entah berkualitas atau hanya berupa seonggok sampah. Namun itulah sebuah kualitas dari eksistensinya. Antara sepotong gading atau seutas belang, atau juga berupa sekeping nama. Itulah sepenggal catatan terecer berupa warisan dari hidupnya.
(1) Butiran pertama, berupa ceceran hidup yang berkualitas. Manusia itu dapat mewarisi sebuah nama baik.
Ia berjasa bagi sesama lewat totalitas abdiannya. Ia pribadi yang penderma, tulus, dan jujur di dalam hidupnya.
(2) Butiran kedua, berupa suatu keadaan hidup yang biasa-biasa saja. Dia hadir sebagai pribadi yang apa adanya. Tidak menonjol dan juga tidak terlalu buruk.
Dia pun dikenal sebagai sosok yang biasa saja. Tidak sangat menonjol di dalam tindakan kebaikan dan kesetiaan, walaupun tidak buruk juga.
(3) Butiran ketiga, berupa keburukan hidup. Dia hidup dalam kondisi sangat buruk dari aspek manusiawi dan rohani.
Betapa dia sudah dikenal sebagai pribadi yang asosial. Bersikap masa bodoh, pongah, dan gila hormat. Dia, bahkan sudah hidup hanya demi dirinya sendiri. Hal ini juga sebagai sebuah lagu lama di dalam masyarakatnya.
Inilah Aku dan Mana Kamu?
Inilah sebuah potret paling riil, tentang siapakah aku ini, di sini, dan kini di atas bumi maya ini.
Itulah sehelai catatan tercecer yang sempat ditinggalkan manusia!
Lalu engkau, apa yang telah engkau tinggalkan?
…
Kediri,ย 15ย Juliย 2024

