Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Errare humanum est” (Khilaf itu manusiawi)
…
| Red-Joss.com | Di kesempatan ini, kita akan sejenak bersanding ria dengan si burung merak, sang manusia.
Si dia yang kadang-kadang tampil memukau, rada nyentrik dan terkesan eksklusif. Tapi seringkali dia juga sangat misterius dan doyan untuk bergaya flamboyan.
Ya, itulah manusia, si cucu Adam yang sering salah tingkah bertindak dalam arena hidup ini.
Pada kesempatan ini, kita akan mendeskripsikan kondisi riil jati diri sang manusia di dalam hidup yang singkat ini.
Sungguh benar, jika manusia itu dilukiskan sebagai makhluk yang selalu jatuh bangun dalam hidupnya (errare humanum est). Karena dia memang membawa sisi-sisi gelap, walaupun terdapat juga sudut-sudut cemerlangnya.
Kondisi keberadaan jatuh bangun itu, seperti yang lazim dan terungkap di dalam realitas hidup manusia.
Bahwa โฆ “Air itu tidak selamanya jernih, demikian juga tuturan seorang manusia.”
“Salju itu tidak selamanya putih, demikian pula langkah laku hidup seorang manusia.”
“Langit itu tidak selamanya biru, demikian pula kehidupan seorang manusia.”
“Jalan itu tidaklah selalu lurus, begitu pula langkah hidup seorang manusia.”
Itulah sejumlah realitas keberadaan dan deskripsi dari sifat-sifat kelemahan seorang manusia.
Saya teringat sebuah kesaksian, lewat ucapan seorang hamba Tuhan, Rasul Paulus, bahwa “Ketika aku lemah, maka aku pun kuat, karena kekuatan Kristus yang berada di dalam diriku.”
Dari balik tulisan reflektif ini, kita diajarkan, bahwa kita adalah ciptaan yang dipersenjatai kekuatan, namun juga terdapat kelemahan-kelemahan.
Lewat realitas kondisi keberadaan ini, justru menjadikan kita sebagai makhluk ciptaan yang rela untuk bergantung sepenuhnya kepada kerahiman dan kemurahan hati Sang Pencipta.
Tuhan yang akan menyempurnakan keberadaan kita sebagai ciptaan yang lemah dan terbatas ini.
Dari dan lewat kesadaran ini, hendaklah manusia itu senantiasa sadar akan kerapuhan hidupnya.
Manusia itu bagaikan bejana tanah liat yang diciptakan dari debu tanah.
Tapi lewat ubun-ubun kepalanya, ia telah dihembusi nafas hidup oleh Sang Kehidupan!
…
Kediri, 14 Juli 2024

