“Anak dekat dengan Ibunya itu biasa. Tapi kita dekat dengan Ibu Maria adalah anugerah luar biasa.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Kedekatan saya dengan Ibu Maria bermula, ketika saya dianugerahi untuk melihat pribadi seorang Ibu yang sederhana, rendah hati, dan penuh rahmat.
Ibu Maria yang menyimpan semua perkara di dalam kerendahan hati, karena memahami, taat, dan setia pada kehendak Allah.
Pada pribadi Ibu Maria, saya juga menemukan samudra kasih lewat sorot matanya nan jernih itu. Adalah hal spesial, jika kita umat Kristiani berdevosi pada Ibu Maria, karena mencintai Ibu Tuhan.
Berada di dekat Ibu Maria, hati saya merasa aman, damai, dan bahagia.
Penerimaan diri Ibu Maria untuk memahami kehendak Allah itu amat menginspirasi, sehingga saya tidak ragu berdevosi pada Ibu Maria yang terberkati.
Di puncak salib, Tuhan Yesus sudah menyerahkan para murid-Nya itu kepada Ibu Maria.
“Ibu, itulah anakmu.”
Penyerahan itu bukti totalitas kasih Tuhan Yesus yang mempercayakan kita pada Ibu Maria agar kita mau dibimbing, diarahkan, taat, dan setia padanya.
Dengan berdevosi pada Ibu Maria, kita diajak menimba kasih Tuhan Yesus. Kita tentu ingat pernikahan di Kana, ketika si empunya hajat kehabisan anggur. Ibu Maria meminta pada pelayan untuk menuruti yang diminta oleh Tuhan Yesus (Yohanes 2: 1-11).
Dengan merajut kedekatan penuh kasih pada Ibu Maria, kita percaya dan yakin seyakinnya, Tuhan Yesus akan mengabulkan doa-doa kita lewat perantaraan Ibu-Nya.
Dengan Doa Salam Maria “ … doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati” adalah jembatan kasih yang membawa kita ke dalam Kerajaan-Nya.
Dengan berdevosi, hidup kian berisi dan bermakna.
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

