| Red-Joss.com | Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata padanya: ”Efata!” artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
Penyembuhan seorang bisu tuli oleh Yesus (Markus, 7: 31–37), narasinya banyak kesamaan dengan penyembuhan orang buta dari Betsaida (Markus 8: 22–26).
Bisu-tuli atau tuna rungu dan tuna wicara adalah ketaksanggupan seseorang berbicara dan mendengar.
Ketidaksanggupan itu, sebagian atau secara keseluruhan, sering kali diakibatkan oleh penyakit, kecelakaan, atau bunyi keras yang sangat kuat dan tiba-tiba atau yang berkepanjangan. Ada juga orang-orang yang terlahir tuli.
Penyebab lain yang disebutkan dalam Alkitab adalah kerasukan setan (Markus 9: 25-29). Adapun ciri-cirinya antara lain: Bicara keras, tapi tak jelas.
Kita tidak bisa dengan mudah membedakan sebab-sebab bisu, karena sakit, cacat atau setan. Akan tetapi, jika kita amati fenomena pola komunikasi zaman ini bicara keras namun tak jelas jadi ciri khas kebisuan era ini. Semua cenderung ingin berbicara keras, tapi tidak jelas, sehingga tidak ada yang sanggup untuk memahami. Itulah bisu tuli abad ini. Kebisuan mental spiritual.
Untuk jenis bisu ini, Yesus saja yang sanggup untuk menyembuhkan. Seseorang bisa sembuh jika mampu menyibak kebisingan diri, mendekat pada Yesus dan mau menyentuh jubai jubah-Nya. So, “Don’t delay until tomorrow what you can do today!”
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

