| Red-Joss.com | Dibutuhkan waktu, kesabaran, penjelasan, pengalaman, dan bukti untuk membantu pribadi yang skeptik itu jadi beriman.
Banyak hal yang mempengaruhi, mengapa kemudian kita tumbuh jadi pribadi yang kurang percaya dan ragu-ragu, karena:
- Latar belakang keluarga, pribadi, budaya, pendidikan yang kita miliki.
- Bisa juga penampilan fisik kita.
Sekali kita dididik dengan cara yang salah, maka untuk mengubah jadi baik itu membutuhkan waktu, kesabaran, pengalaman, penjelasan, dan bukti.
Pengalaman lain berbicara, bahwa berkomunikasi atau hidup dengan pribadi yang skeptik itu tidak nyaman dan tidak menyenangkan. Beberapa kecenderungannya yang muncul:
- Karena tidak mudah percaya. Sebab mungkin dia tidak dididik untuk jadi pribadi yang percaya diri.
- Berimaginasi: positif atau negatif, dan keduanya salah, karena hanya imaginasi atau mengarang sebuah cerita atau kisah.
Misalnya yang nampaknya positif: selalu jadi pribadi yang hebat. Menempatkan diri sebagai seorang yang hebat. Ingin menunjukkan, bahwa dia mempunyai kenalan orang-orang yang hebat. Intinya: dia pamer.
Imaginasi yang negatif: selalu minta dikasihani. Jadi pribadi yang selalu bergantung. Terlalu sensitif, mudah tersinggung, dan terbawa perasaan. Kalau yang kasar: mudah marah. Jika yang penakut: mudah bergossip. Intinya: dia harus dengan perhatian.
Kedua imaginasi itu tidak nyaman. Sehingga proses pendewasaan diri terhambat atau jadi lambat.
Kecenderungan yang lain: sibuk dengan dunianya sendiri. Contoh, dalam suatu pembicaraan kita sudah bicara dari A, B, C sampai Z. Tapi dia akan bicara A terus, karena hanya mengikuti dunia idenya. Titik pembicaraan selalu dirinya sendiri. Sehingga banyak hal yang tidak nyambung.
Yang juga terjadi: gambaran dirinya negatif. Lalu pola pikir, perilaku dan kata-katanya selalu negatif. Misalnya, bahwa pribadi ini adalah pribadi yang ‘negative thingking’. Bahkan, tanpa disadari komentar-komentarnya untuk orang lain, baik langsung maupun di media juga negatif.
Intinya: Tidak mudah untuk mendampingi dan mendidik pribadi yang skeptik ini. Bisa, tapi membutuhkan kesabaran dan waktu.
Tuhan Yesus mempunyai cara yang unik dan khas untuk mendidik salah satu murid-Nya yang mempunyai kepribadian skeptik, yaitu Thomas. Perhatikan, Tuhan Yesus sabar untuk mendampinginya.
Misalnya, Sabda Tuhan Yesus “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup,” muncul dalam dialog antara diri-Nya dengan Thomas dan Filipus (juga murid-murid yang lain, karena mereka selalu bersama). Lalu saat peristiwa kematian Lazarus, dia asal bicara, “mari kita mati bersama dengan Dia.” Thomas bicara dengan sinis dan tanpa dipikir.
Juga yang terjadi dalam Injil, ungkapan dari mulut Thomas, “Ya Tuhanku dan Allahku” tak lepas dari peran Tuhan Yesus yang mau mendampingi Thomas di hari-hari menjelang perutusan yang terakhir. Pada akhirnya, dia sungguh bisa membenamkan diri ke dalam hidup Sang Guru. Dia melihat, menyentuh, dan merasakan bekas luka-luka dari Gurunya itu.
Pengalaman yang menyentuh dan membuat dia akhirnya sungguh percaya. Terlambat? Tidak juga. Dia telah menemukan sumber cinta Tuhan, dan itulah yang mengubah hidupnya.
Jika dirangkum, masing-masing Rasul itu mempunyai kelemahan. Tapi kelemahan itu harus diterima, disadari, dan bisa disembuhkan (begitu pula dengan kelemahan kita). Sebab hal ini sangat vital, bagaimana kita bisa mewartakan jika kita ini skeptik-peragu, atau kita mudah menyangkal (Rasul Petrus). Karena itu kita harus jadi pribadi yang bisa berdamai dengan diri sendiri.
Tidak usah ragu, sejauh kita tetap terbuka untuk belajar, selalu ada jalan untuk pendewasaan diri ini. Yang penting kita mau membuka diri untuk dibentuk-Nya.
Tuhan Yesus memberkati.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

