Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Warisi apinya, jangan abunya. Api semangat itu berasal dari rakyat. Itulah refleksi kritis atas seluruh gagasan Bung Karno.”
(Hasto Kristiyanto)
…
Pemimpin Agung yang Mampu Menginspirasi
Kita pernah mengenal sejumlah pemimpin dunia yang telah mampu menginspirasi dunia lewat cara dan sikap hidup, ucapan tersohornya, serta aneka gagasan briliannya dalam hidup berdemokrasi.
Sebut saja Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat. Beliau sangat tenar justru, karena sikap memaafkan serta sebagai pribadi yang mampu mendamaikan pertikaian di dalam negara dan bangsanya.
Juga Presiden Amerika Serikat Jhon F. Kennedy, yang terkenal lewat tuturannya yang telah mampu membangkitkan rasa cinta dan patriotisme kepada bangsanya.
Mahatma Gandhi, pemimpin besar India (Asia) yang sangat mencintai persamaan hak dalam hidup dan perjuangannya yang sangat anti akan kekerasan, โAhimsaโ.
Juga pada sang Proklamator dan orator brilian kita, Bung Karno yang sangat menjunjung tinggi dan mencintai rakyat serta bangsanya.
Tak pelak, beliau adalah sang pejuang api demokrasi yang bahkan melupakan kepentingan pribadi dan keluarganya.
Kini kita tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja
Tulisan ini diinspirasi oleh spirit dari tulisan berjudul, “Bung Karno dan Wanti-wanti Menjaga Demokrasi” oleh Nikolaus Harbowo, Kompas, kolom Politik & Hukum (Rabu, 3/7/2024).
“Warisi apinya, jangan abunya. Api semangat itu berasal dari rakyat.”
Itulah refleksi kritis atas seluruh gagasan Bung Karno, demikian Hasto Kristiyanto dalam orasinya pada penutup mengenang rangkaian bulan Bung Karno.
Mengenang hari lahir Pancasila 1 Juni dan Bung Karno 6 Juni, serta wafanya Bung Karno pada 21 Juni.
Di masa hidup dan kepemimpinannya, kita mengenal serta mengenal beliau sebagai tokoh besar sebagai pejuang bangsa yang rela berkorban dan sangat mencintai rakyat serta bangsanya.
Jika kita mau tulus dan jujur untuk bersikap lewat pikiran serta tindakan kita, maka sejatinya bahwa bangsa kita kini, justru sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, bukan?
Disinyalir, bahwa kini orientasi bangsa kita sangat getol untuk membangun perekonomian yang kuat, namun di sisi lain, spirit kita terhadap demokrasi justru melemah, demikian analisis kritis dari Wijayanto, Direktur Pusat Media dan Demokrasi pada Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial.
Bahkan beliau berpendapat, bahwa pola pikiran itu justru sesat. Mengapa? Beliau berpendapat, bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan terjadi, jika tak diiringi oleh penguatan iklim berdemokrasi.
Tanpa demokrasi, bukankah ekonomi kita akan kian timpang dan hanya akan dikuasai oligarki atau segelintir orang, demikian Wijayanto.
Mari kita warisi api demokrasi ala Bung Karno dengan mencintai sesama sebangsa dan setanah air.
Jauhilah spirit akuisme dan gila kuasa yang berpijak pada diri serta keluarga!
…
Kediri, 6 Juli 2024

