Fr. M. Christoforus, BHK
“Remaja kita itu ibarat sekeping rembulan, karena selain ada sisi gelap, tapi juga ada sisi terang.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Tulisan berlatar belakang “bagaimana strategi jitu dalam mendidik siswa” ini bertolak dari sebuah pengalaman riil saya, ketika menjadi seorang Guru dan Pendidik.
Litani Laten sang Guru
Sangat sering di saat masih aktif sebagai seorang Guru, Wali kelas atau juga sebagai Guru yang menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah di bidang Kesiswaan, yang mengeluh dan merasa gagal dalam mendidik siswa.
“Apalagi yang harus kita lakukan, karena ternyata semuanya hanya sia-sia belaka. Ternyata siswa masih juga melanggar kesepakatan kelas atau pun sekolah.โ
Inilah keluhan bernada kecewa dan putus asa yang sudah sangat sering dilontarkan oleh Guru.
Berkunjung ke rumah siswa alias (home visit) pun sudah dilakukan. Curhat personal dengan siswa, sudah juga diadakan. Meminta siswa menuliskan alasan mengapa dia sering melanggar kesepakatan sudah pernah diadakan, dan bahkan pernah juga diadakan momen untuk berdoa bersama. Tapi, toh tidak mempan.
Inilah sederet litani yang mengalir dari bibir Guru atau seorang Wali kelas.
Mari Mencoba Menerapkan Strategi Jitu
Berikut ini disajikan empat (4) buah strategi sebagai sebuah pendekatan jitu dalam proses edukasi, agar siswa tidak mudah melanggar kesepakatan.
(1) Guru tidak terbiasa menyertakan siswa di dalam proses penyusunan program kelas atau pun sekolah.
Maka, hal ini akan berdampak, bahwa siswa merasa program itu bukanlah urusannya. Itu urusan para Guru. Mengapa? Karena sejak proses awal penyusunan program kelas / sekolah, siswa tidak disertakan.
(2) Siswa tidak memahami apa isi serta tujuan dari program kelas / sekolah itu.
Maka, pihak sekolah perlu menyosialisasikan isi / tujuan program itu kepada siswa pun para orangtua siswa. Tujuannya, agar semua โstake holderโ dapat memahami isi dan tujuan dari program itu.
Yang sering terjadi, karena siswa tidak memahaminya, maka siswa tidak mempedulikannya.
(3) Siswa hanya mencari perhatian dari Guru dan teman. Siswa itu seorang remaja yang secara psikologis masih sibuk mencari jati dirinya. Di dalam konteks ini, siswa masih sangat ingin agar dirinya dipedulikan dan diperhatikan oleh lingkungannya di sekolah.
Jika siswa merasa, bahwa dirinya sering diabaikan, maka sebagai bentuk pelampiasannya, dia akan doyan untuk melanggar kesepakatan kelas atau sekolahnya.
(4) Pengaruh dan bujukan teman. Mengapa demikian? Bukankah salah sebuah kekhasan siswa ialah sikap solider dan rasa setia kawan (peer group) dengan teman-temannya?
Maka, jika ada seorang teman idolanya, yang memberi pengaruh untuk memberontak dan melawan kebijakan kesepakan kelas serta sekolah, maka dengan sendirinya, siswa itu dengan sangat mudah akan terpengaruh. Ibarat kerbau di cocok hidungnya, kata pepatah.
Keempat strategi di dalam tulisan ini, tentu merupakan suatu upaya atau cara yang perlu dipahami dan dicoba untuk dilakukan oleh para Guru atau pihak sekolah.
“Tiada rotan, akar pun berguna,” sambil mencari strategi dan cara jitu lain, apa salahnya keempat pendekatan ini kita terapkan di lembaga sekolah kita.
“Ala bisa karena biasa,” siapa tahu, cara sederhana ini, ternyata kelak dapat bermanfaat.
Selebihnya, hanyalah suri teladan handal. Sekali lagi, misteri dasyatnya suri teladan dari sang Guru hebat!
…
Kediri,ย 2ย Juliย 2024

