“Jangan takut untuk berubah dan jadi baik. Ketakutan itu berasal dari orang yang lemah iman dan malas.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Mungkinkah di usia yang menua ini kita mampu melakukan hal itu?
Pertanyaan wajar, bahkan sering menghinggapi kita yang hendak memulai. Terjadi pada orangtua dan muda. Sehingga kaki ini serasa berat sekali untuk melangkah.
Selain tidak percaya diri, bisa jadi, karena kita memulai pekerjaan baru yang menyimpang dari keahlian, apalagi mulai dari nol. Tidak sedikit pula orang yang malu dan gengsi melakukan pekerjaan rendahan dan kasar.
Seperti yang dialami oleh MN. Di usianya yang tidak muda lagi, ia ditawari ngojek motor oleh teman sekampungnya, KD, sekadar untuk menyambung hidup di rantau.
Tawaran KD itu peluang, karena menganggur itu tidak enak. Tapi ngojek motor? Ia harus bangun pagi mengantar KD, dan pulangnya menjemput kembali di halte Busway. Belum lagi, jika turun hujan, bertemu teman… malu!
“Kau pikir dulu. Mungkin capai, tapi hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhanmu,” kata KD yang biasa menitipkan motor di dekat halte. Ia lalu pergi meninggalkan MN.
Sesungguhnya KD benar, karena MN kepala keluarga. Ngojek itu sementara, sebelum memperoleh pekerjaan baru yang sesuai dengan bidangnya. Sekali lagi, mengojek…?
Sebenarnya ada juga tetangga MN, anak muda yang mandiri dan menginspirasi. Ia membiayai kuliahnya hingga lulus dengan menjajakan kantong kresek dari lapak ke lapak di pasar. Malam mengirim plastik kebutuhan para pelanggan dan paginya mengambil uang setoran. Bahkan tidak jarang ia belajar dan begadang di pasar, jika keesokan hari harus kuliah atau ada ujian.
Menawarkan dagangan dari lapak ke lapak di pasar malam hari dan mengojek motor itu tidak enak. Capai. Apalagi harus menggunakan modal.
Membayangkan, sesungguhnya dengan membayangkan hal-hal buruk, berat, dan negatif itu datang dari si jahat agar kita jadi pemalas dan bodoh. Sebaliknya jika kita membayangkan hal-hal baik, indah, dan positif membuat kita semangat dan optimis untuk mewujudkan impian itu jadi nyata.
MN menekur dalam kebimbangan. Keluarganya membutuhkan biaya untuk makan, anak sekolah, dan biaya lain yang tidak bisa ditunda. Tapi semua itu harus dipenuhi. Ia tidak mempunyai pensiun, karena perusahaan swasta tempatnya bekerja itu bangkrut. Ia juga tidak mempunyai tabungan.
“Maaf, Bang… ngojek?” tanya lelaki tua itu ragu-ragu, ketika MN sedang minum di kios rokok.
“Ya, ya… Bapak mau ke mana?” sahut MN buru-buru. Ia menstater motornya, lalu menyilakan Bapak itu membonceng.
“Tuhan, inikah jalan hidupku?” gumam MN pada diri sendiri. Ia ingat keluarganya di kampung. Ia harus berani berubah dan menjalani semua itu demi keluarga.
Mata MN berkaca-kaca. Ia bersyukur, karena dingatkan. Ternyata selama ini ia menutup mata dengan perhatian dan kebaikan teman-teman. Sehingga jadi kerdil dan picik!
Ia harus berani beradaptasi dengan keadaan untuk berubah, dan jadi tangguh!
…
Mas Redjo

