Simply da Flores
…
Orang-orang Kristiani berbondong ke Gereja
untuk ritual meruwat jiwa raga
dengan alasan motivasi pribadi
dengan busana dan dandanan asri
dengan sesaji sembah intensi diri
dengan doa dan harapan pasti
Sedangkan hari diguyur hujan
mengantar perginya bulan Juni
yang mencatat aneka kisah cerita
pada lembaran memoar waktu
Meskipun tidak semua pribadi peduli dan menyadarinya
untuk memberi arti dan meraih makna
Hari Minggu di akhir bulan Juni
ada berbagai postingan rohani di sosmed
ada ucapan salam dan renungan Alkitab
ada berita hangat politik pilkada
ada kabar kegiatan rekreasi liburan
ada beragam pesona tawaran iklan
Dan
dari bangku trotoar di metropolitan
Aku saksikan ceria dinamika warga kota
ada yang semangat berolahraga
ada komunitas hobi berkumpul
hilir mudik para penjual jajanan
para pemulung sibuk memanen sampah
Kuyakini Tuhan tetap tersenyum
melihat memaklumi semua apa adanya
Hari Minggu akhir bulan Juni
dilukis aneka wajah umat Kristiani
entah di kota maupun di kampung
entah yang kaya maupun miskin
entah yang manula dewasa dan muda
entah yang pejabat maupun rakyat biasa
Aturan beribadah ditanggapi berbeda
sesuai kesadaran pemahaman imannya
sesuai keadaan sosial ekonominya
sesuai tingkat pendidikannya
sesuai pertimbangan manfaat untung rugi
sesuai kepentingan politik dan gengsi
Bahkan ada yang memang tidak peduli
Aturan agama mungkin berbeda dengan relasi pribadi kepada Yang Ilahi
seperti masih ada hujan di akhir Juni
Aku berjalan memasuki Gereja
suasana khidmat teduh dan hening
Umat sedang berdoa pribadi
sebentar lagi perayaan Ekaristi dimulai
Dan
saya mendapat tempat di pojok bangku belakang
Sejenak menarik nafas iman
Aku berlutut dan pejamkan mata
di pelataran sanubari jiwaku bersimpuh
meraih pena kepasrahan menulis
“Hanya ini Tuhan
sepenggal syukur jiwa raga
Kutahu Engkau selalu baik dan teramat baik
Terima kasih
karena saat ini saya bisa bersyukur pada-Mu”
Hari Minggu di akhir bulan Juni
setelah ikuti perayaan Ekaristi suci
Aku tinggalkan ruang doa hening teduh
dengan rasa bangga dan kagum
bahwa hari ini aku bisa bersyukur
atas nafas dan semua fakta hidupku
bahwa biasanya banyak deretan doa permohonan
bahkan protes keluh kesah seolah Sang Ilahi buta mata-Nya
bahwa biasanya merasa perlu mengajari dan mengatur Yang Maha Agung dan Maha Cinta
Hari Minggu akhir bulan Juni
masih diguyur hujan deras
ada yang gembira ladang keringnya dibasahi
polusi dan debu dihalau pergi
dan hawa panas terik jadi segar
Tetapi
ada yang menangis lara menderita
karena tertimpa banjir dan longsor
serta jalanan jembatan putus tak bisa dilalui
Di sudut sanubari aku goreskan tekad
sepenggal niat akan memperbanyak pujian dan syukur
Lalu harus semakin sedikit bicara kepada Sang Maha Sabda Penuh Kuasa
Apalagi mau memaksa dan mengatur-Nya
“Aku sudah diberi terlalu banyak
Tetapi jarang menyadari untuk bersyukur
Malahan sering meminta dan memaksa
agar Yang Maha Cinta mengikuti seleraku”
…

