“Menyalahkan dan menghakimi orang lain itu membutakan diri sendiri. Tapi berani akui kesalahan dan minta maaf itu kebijaksanaan yang datang dari Allah.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Prihatin, karena selalu disalahkan dan dikambinghitamkan, maka saya ingin jadi pembela mereka. Saya membela hak dan martabat kambing yang semula berwarna hitam mulus itu berubah jadi hitam degil!
Jangan sinis dan apriori seperti itu! Buktinya, disadari dan diakui atau tidak, kita juga sering mencari dan menyalahkan orang lain.
Disalahkan dan dijadikan kambing hitam itu tidak enak, bahkan sangat menyakitkan hati. Pertanyaannya, kita diam karena takut? Tidak miliki hubungan dengan orang itu, sehingga kita bersikap tidak peduli dan masa bodoh?
Stop mengkambing-hitamkan orang lain! Saatnya kita peduli, berempati, dan berjuang bersama mereka yang dijadikan kambing hitam.
Stop, saatnya kita terus menerus berefleksi diri untuk memutihkan diri sendiri!
Karena disalahkan, dihakimi, dan dikambinghitankan itu sungguh menyakiti hati, saya lalu berburu kambing hitam untuk dibeli. Berapa banyak dan mahal harganya, saya tidak sayang mengeluarkan uang untuk membeli kambing hitam mulus itu.
Tujuan saya membeli sebanyak-banyaknya kambing yang berwarna hitam mulus itu agar mereka tidak dihakimi dan punah, tapi harus dilindungi hak dan martabatnya.
Caranya adalah saya berani menggaji tinggi orang yang piawai melatih kambing agar tidak mengembik (embek) lagi, tapi suaranya jadi lenguhan sapi (mooh = tidak mau).
Saya serius, sangat serius untuk membela hak kambing agar tidak madah dihakimi, dikorbankan, dan disembelih.
Ketika musim pilkada, pileg, pilpres, atau musim berkorban lainnya, saya keukeh tidak menjual kambing hitam piaraan saya. Bahkan berapa mahal orang menawar dan ingin membelinya!
“Coba tanya sendiri pada kambing-kambing itu mau dibeli atau ndak,” jawab saya sambil tersenyum rileks.
Orang-orang yang ingin membeli kambing itu memandang saya, tidak percaya, tapi penasaran.
“Kambing, maukah kubeli dan ikut aku…?” tanya seseorang ragu.
“Emooh…!”
Orang-orang yang merubung kambing itu saling berpandangan. Mereka lalu bertanya satu persatu makin heran dan penasaran.
“Moooh…!” serentak kambing-kambing piaraan saya mengemoh kompak.
Mereka kembali berpandangan satu dengan yang lain, dan malu hati.
Saya lalu meminta semua tamu untuk pulang, karena saya tidak menjual kambing-kambing itu. Saya berdoa, semoga mereka sadar diri untuk tidak lagi mencari kesalahan atau menghakimi orang lain.
…
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

