Tidak ada yang asli dalam hidup ini, ketika penuh dengan drama.
Apa saja yang terjadi dalam hidup ini telah dijadikan drama.
Karena ini adalah drama, maka kita merangkap sebagai sutradara, pemain, bahkan sebagai penonton.
Bagi orang lain yang melihat, karena hidup telah didramakan, maka tidak ada yang indah. Sama sekali tidak indah.
Mari kita kembalikan hidup ini, pada pondasinya: Sutradara kehidupan ini adalah Tuhan, Sang Pencipta. Pemain dalam kehidupan ini adalah kita, yang harus memutuskan mana yang baik dan mana yang benar. Penontonnya adalah mereka yang melihat hidup kita, ketika bertindak yang baik atau yang benar.
Akhirnya, hidup yang tidak didramakan, hasilnya adalah nilai, makna. Nilai itulah yang diwariskan sebagai ‘legacy’.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

