Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Relasi bahasa dengan kekuasaan selalu ditandai dengan terjadinya instrumentalisasi atas bahasa demi mencapai kekuasaan.”
(Didaktika Hidup: Relasi Bahasa dengan Kekuasaan)
“Language is Power“
(Bahasa Merupakan Kekuasaan)
…
| Red-Joss.com | Dalam sejarah peradaban umat manusia, faktor bahasa jadi sebuah sarana penting yang tidak dapat diremehkan eksesnya bagi penguasa alias pemimpin bangsa.
Bahasa Menunjukan Bangsa ataukah Bahasa Menunjukan Penguasa?
Mungkin kita masih ingat dengan kelembutan dan kata kedamaian serta pengampunan yang selalu menghiasi ucapan bibir Presiden ke -16 AS, Abraham Lincoln?
“Mari sebagai sesama anak bangsa, kita saling menghormati dan mengampuni demi keutuhan bangsa Amerika.”
Atau pada bahasa yang penuh ancaman sebagai simbol kekuasaan dan kediktatoran dari Hitler, Pemimpin Nazi Jerman?
Jika kita mengingat Hitler, maka yang kita ingat adalah hitamnya kengerian pada kamp konsentrasi Auscwitz, Polandia yang telah membumihanguskan ribuan para tahanan, terutama warga Yahudi?
Atau pada kejeniusan dan artistikannya bahasa Presiden AS, Jhon F. Kennedy yang bernilai rasa tinggi dan mampu menghipnotis dunia?
Ucapan terkenal beliau yang telah mendunia, “Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit.”
Atau “Janganlah engkau tanyakan, apa yang telah dibuat negara untukmu, tapi bertanyalah, apa yang telah engkau perbuat untuk negara?”
Atau pada artistikannya bahasa orator proklamator kita, Bung Karno yang penuh daya magis dan persuasif?
“Berikan daku seribu orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan daku sepuluh orang pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Atau juga pada bahasa khas Rezim Suharto di Masa Orde Baru? Bahasa licik yang didominasi oleh majas eufemisme (penghalus), bahasa yang justru sangat membingungkan masyatakat?
Sadarkah kita, bahwa justru hingga hari ini, detik ini, di zaman Reformasi ini, kita masih menggunakan bahasa biasan warisan Suharto?
Kita telah dibius dan dikibuli dengan penggunaan bahasa bermajas eufemisme (penghalus), yang justru membingungkan dan penuh kebohongan?
Semisal, kenaikan harga minyak, namun telah dihaluskan jadi penyesuaian harga.
“Para pendemo telah ditangkap, namun telah dihaluskan dengan, para pendemo telah diamankan.”
Apakah saat ditangkap, dikeroyok, dan bahkan disiksa, Anda pun sungguh merasa aman?
Nah, inilah contoh-contoh konkret penggunaan bahasa penguasa lalim yang justru penuh intrik dan tipu musliat.
Ternyata kejamnya sistem jajahan dari para penguasa itu tidak saja secara fisik dan materi, namun juga dari aspek bahasa.
Bukankan sejatinya, bahwa aspek bahasa dapat menjadi sarana politik busuk bagi penguasa demi melanggenglitaskan kuasanya?
Bahasa sebagai sarana kebudayaan pun telah dinodai sebagai sarana demi melanggengkan kuasa.
Language is power!
…
Kediri,ย 29ย Juniย 2024

