Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pendidikan itu bukan hanya mengelola akal budi, namun lebih-lebih mengelola aspek batin serta emosi.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
Salah Paham Laten
Proses pendidikan bagi kebanyakan orang, masih terfokus dan berkutat pada aspek penajaman akal budi semata. Inilah sebentuk salah paham laten.
Padahal dalam proses pendidikan sejati, hal utama yang perlu untuk disentuh adalah aspek batin dan emosinya.
Tapi sayang, karena masyarakat kita sudah terlanjur mendewakan aspek pembentukan akal budi semata.
Lihat saja pada pengalaman hidup riil kita. Seorang anak yang dinyatakan ber-IQ di atas seratus, maka masyarakat kita sudah menganggapnya sebagai anak berbakat dan akan sukses kelak. Padahal di sisi yang lain, ternyata kecerdasan emosi dan sosial anak justru sangat rendah.
Pentingnya Pengolahan Batin, Emosi, dan Imajinasi Anak
Peran penting pendidikan yang menekankan pada aspek pengolahan batin, emosi, dan imajinasi anak memang mutlak kita perlukan.
Mengapa? Karena pendidikan yang mementingkan aspek pengolahan batin, emosi, dan imajinasi akan membentuk pribadi anak yang peduli serta mudah berempati kepada sesama.
Maka, akan sungguh penting, jika kepada anak-anak diberikan pendidikan humaniora yang sangat menekankan pada aspek pendidikan nurani manusia.
Dalam pelajaran ilmu sejarah, misalnya mengapa Guru hanya sibuk dengan mengajak murid untuk menghafal data sejarah, berupa angka tahun serta nama tokoh sejarah?
Mengapa anak-anak tidak diajak untuk berdiskusi bersama tentang bagaimana reaksi emosi mereka, di saat sekelompok warga tidak bersalah justru dibunuh oleh musuh?
Dalam konteks ini, Guru sebaiknya membiarkan anak-anak untuk berimajinasi sesuai dengan daya penghayatannya.
Dari proses ini, maka akan tumbuh rasa solider dan setia kawan dalam diri anak.
Sering kali juga sekolah-sekolah kita membaurkan antara pelajaran budi pekerti dengan pelajaran agama. Hal ini adalah sebuah kekeliruan fatal. Mengapa? Karena pembauran ini akan ada bahayanya. Bukankah di dalam pelajaran agama sangat ditekankan pada aspek-aspek dogmatis? Maka, di dalam konteks ini, imajinasi anak tidak dapat berkembang.
Lewat proses pendidikan sejati, justru anak dilatih untuk membangunkan kesadaran emosi dan imajinasinya, agar ia dapat bertumbuh dan berkembang seirama batang usianya.
Pendidikan sejati adalah proses pemanusiaan sang manusia (homo humanus).
Membentuk sesosok jati diri manusia, dibutuhkan keseimbangan, antara aspek pendidikan akalia dengan pendidikan batinia.
…
Kediri,ย 28ย Juniย 2024

