“Cara sederhana dan mudah menyerap ilmu kehidupan adalah dengan mengosongkan pikiran ini untuk melihat dan mendengar dengan hati.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Ternyata untuk belajar jadi bijak itu tidak harus berguru pada para cerdik pandai, tokoh spiritual handal, atau dengan membaca buku yang berbobot. Tapi kita bisa belajar dan menimba ilmu dari lingkungan dan orang-orang di sekitar kita. Asalkan kita mau mengosongkan pikiran ini dan bersikap rendah hati!
Seperti yang terjadi pagi ini, ketika saya mampir di bank yang biasa dilewati, jika berangkat ke toko. Saya melihat sopir memberi uang kepada tukang parkir.
Tanpa diminta, sopir saya, KP lalu bercerita. Bahwa tukang parkir itu sebenarnya ingin pinjam uang pada saya, setelah gagal pinjam uang pada karyawan bank.
Karena untuk menebus rapor anak tukang parkir, tanpa pikir panjang KP lalu meminjamkan uang yang diperlukan, Rp 150.000,-
Padahal KP tidak kenal dia. Saya ke bank itu juga paling sebulan sekali, untuk mencetak buku atau transfer antar bank.
Jika alasan tukang parkir, karena banyak pegawai bank yang baru, sehingga dia tidak diberi pinjam. Saya ragu. Faktanya dari mereka itu sudah bekerja tahunan bank itu. Tapi saya malas memikirkan hal itu.
“Iya, seminggu mau dikembalikan, jika tidak?” pancing saya pada KP.
“Saya ikhlas,” jawab KP pelan, tapi tiada keraguan.
Saya tersenyum, tidak bicara lagi. Banyak di antara kita yang memberi dengan melihat keadaan, karena takut dibohongi. Faktanya, banyak orang yang menggunakan seribu alasan untuk meminjam, padahal meminta. Bisa juga mereka ingin memanfaatkan kebaikan orang lain.
Suatu hal yang membuat saya respek pada KP adalah ia memberi pinjam tanpa memikirkan uangnya bakal dikembalikan atau tidak. Bahkan ia melepas uang itu tanpa merasa ditipu.
Ketika gajian, saya meminta pada bendahara untuk memberi bonus pada KP sebesar Rp 150.000,- sebagai pengganti uangnya yang diberikan pada tukang parkir itu.
Memberi tanpa alasan. Pribadi ikhlas, hidupnya berkualitas.
…
Mas Redjo

