| Red-Joss.com | Atas izin yang bersangkutan saya ulang kisah “Jalan salib seorang Ibu single parent.”
Cerita mini, tapi nyata. (Peristiwanya terjadi 20 tahun silam). Beberapa hari setelah dia, sebut saja Nina, melahirkan dan diperbolehkan pulang. Sambil memberikan bayi itu dokter berkata, bahwa bayinya keadaan semuanya nol artinya fisik dan mentalnya lemah. Tentu kagetnya bak disambar gelèdèk, setengah mati. Dia saat itu ‘speecless’.
Bagaimanapun dia anaknya. Anak yang dilahirkan setelah 9 bulan dikandung. Diterimanya bayi itu dan dirawat sendiri, karena suaminya pergi meninggalkan Nina tanpa alasan yang jelas.
Hari demi hari Nina penuh kesibukan merawat anaknya yang sangat lemah. Dia merawat dan membesarkan anaknya dengan seksama dan penuh kasih, hingga dia bisa melewati batas waktu yang diperkirakan dokter.
Dulu dokter katakan, bahwa anaknya hanya akan hidup 6 bulan lamanya. Sekarang anaknya sudah berusia 20 tahun.
Walaupun begitu anaknya hanya bertumbuh fisiknya. Selain lemah secara fisik, sehingga tidak bisa mengurus dirinya, seperti mandi, makan, ke wc, anak ini juga tidak bisa bicara. Semua aktivitasnya tetap dibantu oleh Nina, Ibunya. Mandi ke wc, digendong. Cara makan dan lain-lain harus diajari, termasuk membaca dan menulis, walaupun dengan usaha yang berlipat. Lelah pasti tidak perlu ditanya lagi.
Dapat dimengerti, jika Nina marah kepada Tuhan. “Mengapa aku? Salahku apa Tuhan?”
Namun, alih-alih marah, nyatanya Nina malah bersyukur, bisa mengasuh anaknya, walau tanpa suami.
Nina berjuang untuk hidup seperti layaknya wanita dan Ibu. Dia tetap beraktivitas seperti biasa, bekerja, koor, ke Gereja harian, dan sebagainya.
Seorang sahabat dekatnya bercerita: “Pernah ketika kami istirahat dan bincang-bincang di tempat katihan koor, Nina bilang dengan ringan: “Beban salibku gedé banget,” itu terkait dengan anaknya yang difable.
Kendati Nina hidup bagai dalam perahu yang dihantam ombak tiap hari, nyatanya dia bisa merasa bahagia, tidak mengeluh dengan keadaannya. Dia juga tidak marah kepada Tuhan. Dia menerimanya sebagai pengabdian. Luar biasa dia, ya!
Suatu hari, sambil mewek alias nangis, Nina bercerita pada sahabatnya: “Anakku bisa nulis di WhatsApp lho. Belum lama ini dia menulis begini: ”Tuhan, sebenarnya saya tidak kayak begini, kasihan Mama.”
Siapa coba yang tidak menangis kalau begitu?
“Wah,… saya jadi ikutan mèwèk, nih…,” kata temannya.
Bagi sahabat yang mungkin sekisah dengan Nina, cerita ini sebagai bentuk rasa kagum dan doaku untuk Anda. Tuhan tidak ‘sare’. Dia akan menenangkan badai dalam hidup Anda, seperti Dia lakukan untuk para murid-Nya.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

