Simply da Flores
…
Sekelompok generasi muda coklat keriting
memamah fajar seperti pinang sirih
sambil memasak gula air menjadi arak sophi
Tifa ditabuh sasando dibelai berdenting
Seribu angan membara di tungku
bersama pisang dan singkong
Lagu kampung terus didendangkan
iringi perut yang keroncong
dibakar bara api dan terik mentari
Ketika santapan lokal mengusir lapar
bocah-bocah telanjang badan tiba
keringat bercucuran tubuh diselimuti debu
Mereka asyik mengiring roda truk
yang hilir mudik mengangkut mineral
Mangan, tembaga, nikel, besi dan emas
yang dikuras dari alam lingkungan mereka
Atas nama ekonomi dan pembangunan
Atas nama investasi dan devisa negara
Banyak proyek bisnis pertambangan
Ribuan hektar pembabatan hutan
Jutaan lahan perkebunan sawit
adalah kegiatan raksasa penuh ambisius
demi keuntungan luar biasa para pemodal tetapi semuanya adalah hal asing
bagi masyarakat adat tradisional di kampung udik desa terpencil
Sedangkan bocah-bocah tak paham masalahnya
generasi muda bingung hadapi fakta
orangtua ketakutan karena kebodohan dan kemiskinan
Dalam deru debu kegamangan nasib
para bocah mengejar percik cahaya fajar
Dalam gemuruh roda modernisme zaman
yang mengoyak alam lingkungan
yang menguras isi perut tanah warisan leluhur
Generasi muda mencari sinar mentari
untuk temukan jalan kreasi inovasi
menganyam masa depan lebih baik
agar tidak merana di tengah kelimpahan kekayaan alamnya
Dalam gulita malam sunyi
para orangtua hening daraskan mantra doa
Agar roh leluhur bisa memberi petunjuk
bagaimana mewariskan seberkas cahaya fajar kepada anak cucu pewaris kampung halaman
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

