“Setiap rintangan adalah peluang yang harus diwujudkan jadi nyata.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Itu prinsip hidup saya, setelah akrab dengan EJ. Meski diledek banyak teman, karena saya alih profesi dari penulis jadi pedagang. Saya tetap senyum, tidak tersinggung. Bisa jadi mereka tidak paham, berdagang itu juga bagian dari seni.
Saya jadi termotivasi dengan sikap mereka. Saya mau, pasti mampu. Saya harus membuktikan diri, dan sukses.
“Mendengarkan nyinyiran orang itu capai sendiri. Lebih baik kita refleksi diri dan fokus pada tujuan,” saya mengingatkan diri sendiri.
Ketika ditolak pelanggan, hal itu biasa. Sama halnya, ketika awal membuat artikel atau cerpen yang ditolak redaktur, karena cerita tidak cocok atau kurang menarik. Begitu pula agar barang dagangan laku, saya belajar untuk memahami selera dan kebutuhan pelanggan.
Semula saya menjual barang lewat jaringan pertemanan di gereja dan komunitas, lalu merambah ke toko pakaian.
Saya survey pasar. Berbincang dan membangun relasi dengan pemilik toko, sekaligus saya belajar untuk menimba pengalaman dari mereka dalam membangun dan mengembangkan usaha.
Sesungguhnya sukses itu berproses dan tidak ada yang instan. Karena yang serba instan itu milik pemalas yang tidak mau bekerja keras, tapi bermimpi uang datang.
Sesungguhnya, untuk mengalahkan kemalasan diri itu tidak hanya berat, tapi sulit sekali.
Ketika sering ditolak, harga barang dibilang terlalu mahal, mutu jelek, dan seterusnya. Saya terpukul, sedih, dan meruntuhkan semangat untuk menyerah kalah.
Ketika melihat hasil usaha saya yang kecil itu tidak sebanding dengan kerja keras, waktu, dan biaya transportasi yang dikeluarkan.
Ketika melihat teman yang tampak santai, tapi berlimpah rezekinya. Sehingga mudah membeli barang- barang mewah.
Padahal dengan membanding- bandingkan itu membuat hati ini jadi kecut, karena kehilangan rasa bersyukur atas anugerah Tuhan.
Dengan berpikir negatif pula, saya selalu merasa hasil usaha yang kecil dan mepet. Sehingga saya menjalani usaha itu jadi berat sekali.
Berbeda hasilnya, ketika saya berpikir positif dan selalu bersyukur. Pikiran ini jadi tenang dan damai.
Bersyukur, karena diberi pekerjaan, dimodali, dan dipercaya EJ. Sedang banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung saya.
Saya menghela nafas panjang dan mengucap syukur. Saya sadar diri. Sesungguhnya yang membuat saya merasa berat dan sulit melangkah itu, karena saya mengandalkan kemampuan sendiri, sombong, dan egois.
Ketika saya mengandalkan Tuhan untuk terus berjuang, sabar, dan teguh dalam iman pengharapan, secara pelan tapi pasti, usaha saya menampakkan hasil yang cukup signifikan.
Selalu indah rencana dan waktu-Mu, ya, Tuhan!
…
Mas Redjo

