| Red-Joss.com | Hidup tenang itu bukanlah sekadar keadaan tanpa masalah, tapi lebih kepada bagaimana seseorang dapat mengelola emosi, pikiran, dan situasi dengan bijak. Orang-orang yang cerdas secara emosional cenderung lebih mampu mengelola hidup mereka dengan damai, tanpa terjebak dalam pusaran emosi negatif yang dapat mengganggu kesejahteraan mereka. Sehingga hidup yang dijalani bisa terasa lebih tenang.
Orang yang cerdas secara emosional itu mempunyai kecenderungan untuk hidup dalam ketenangan, meskipun dihadapkan pada tantangan atau tekanan yang besar.
Apa saja tanda-tanda, bahwa seseorang yang cerdas dapat menjaga ketenangan dalam hidupnya? Bagaimana dan apa obatnya?
Ada tiga pilar penegak dan satu dasar bertindak, yakni ngaruhké, ngrasakké dan ngopeni relasi. Ketiganya hanya dapat dijalani dengan baik dan benar, jika kita selalu ngrumangsani.
(1) Ngaruhake artinya berniat dengan sungguh untuk tahu tentang orang lain. Contoh: saya dengan intensi yang terukur selalu menulis ‘Salam Pagi’ atau ‘Senja’ atau adakalanya ‘Petang, untuk menyapa, ingin tahu bagaimana sesamaku. Tujuannya sangat jelas ngaruhake.
(2) Ngrasakake. Dengan dan melalui tulisan itu, lewat topik-topik berbeda, saya ingin ikut menyatu-hati dengan keadaan dan perjuangan saudara-saudariku. Itulah makna melu ngrasakake.
(3) Melu ngopeni artinya lebih dari sekadar ingin tahu, melu ngrasakake, tapi mau aktif dan rindu ambil bagian membantu sesama sanggup tetap berjalan kendati sulit. Tulisan-tulisan saya yang isinya berlainan: pemahaman, tips, solusi, dan sebagainya itu saya sesuaikan dengan problematik umum yang kita hadapi. Ketiga hal itu hanya akan tepat sasaran jika kita selalu dan ….
(4) Tetap ngrumangsani. Artinya sebaik apa pun tulisan itu, tujuannya bukan saya, tapi apakah relevan dengan apa yang dirasa dan dialami para sahabat.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

