| Red-Joss.com | Berani berubah itu tidak mudah. Meskipun berat dan sulit itu harus dijalani. Kita harus siap mental menghadapi tekanan, baik yang datang dari luar, maupun dari diri sendiri.
“Jika kau mau, pasti mampu,” kata EJ itu sungguh meneguhkanku. Jika saya mau mengikuti jejaknya, dan ingin hidup mapan seperti EJ. Apalagi ia menawarkan diri, siap membantu, dan menularkan ilmunya.
Kata-kata inspiratif EJ: “Jika kau mau, pasti mampu” membuat saya tergugah, sadar diri, dan semangat untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.
Kesempatan baik adalah peluang yang tidak boleh disia-siakan, tapi harus dimanfaatkan!
“Jika tidak sekarang, kapan lagi?!” putusku dalam hati. Tidak mungkin saya hidup dalam keprihatinan, dan sekadar mengandalkan dari honor tulisan sebagai wartawan lepas.
Saatnya saya memikirkan masa depan, yakni dengan menjajakan dagangan dari EJ dan mencari sumber berita. Sekali dayung, dua pulau terlampaui.
“Saya harus mengelola waktu dan memanfaatkannya dengan baik,” pikir saya mantap, percaya diri, dan optimis.
Belajar berdagang itu awal mula saya membiasakan diri untuk disiplin waktu tanpa kompromi. Saya juga disiplin menulis dengan target, minimal 1 artikel atau cerpen harus diselesaikan, sesibuk apa pun. Tidak selesai berarti hutang yang harus dilunasi hari berikutnya.
Begitu pula untuk menjual barang-barang EJ. Saya menjual hasil konfeksinya seperti celana, baju, dan t-shirt. Saya menjual dengan harga pertemanan, untung kecil asal dibayar tunai, dan tanpa resiko. Uang itu langsung saya setor ke EJ, lalu saya mengambil dagangan baru. Saya harus komitmen menjaga kepercayaan dari EJ.
Untuk mengenalkan bisnis baru ke teman-teman, ketika pertunjukkan musik di Gelanggang Remaja, saya mengenakan celana dan baju yang harganya sengaja tidak dicopot.
Tujuannya jelas, kebiasaan akrab saling ledek-ledekkan di antara teman agar ‘ben-diarani’.
“Bajumu anyar, beli di Solo, ya, Suk,” celetuk Mas Tepe.
“Enak aja, Nyong dagang langsung dari konpeksi. Naksir tha… murah lho,” sahut saya sekenanya.
“Uasuuu!”
Lalu meledak tawa.
…
Mas Redjo

