Fr. M. Christoforus, BHK
“Siapakah sejatinya sang aku ini, yang kini tertatih terlunta merana di atas hamparan bentangan luas pasir kehidupan ini?”
(Amanat Sunyi Diri)
Siapakah Aku ini?
“Nosce te Ipsum!“
(Kenalilah Dirimu)
…
Inilah secarik adagium yang terpampang di depan gerbang kuil Appolo di Athena, Yunani.
Idealnya, bahwa manusia itu sangat perlu untuk mengenal siapakah dirinya, agar dia dapat bersikap bijaksana.
Kualitas diriku, dapat juga bermakna, ‘apa isi dan kualitas’ hidupku. “Non multa sed multum,” kata orang Latin. Sebuah pertanyaan retoris yang sungguh menantang bagi seorang manusia sejati.
“Hidup yang bermaka itu adalah aktus hidup yang bersifat memberi, membelah, dan membagi-bagi,” demikian dambaan dari Mother Theresa.
Di dalam hidup ini setidaknya terdapat tiga buah relasi keutamaan yang jadi ukuran dari kualitas hidup seorang anak manusia.
Ketiga Buah Relasi
Bagaimana relasiku dengan diriku sendiri.
Bagaimana relasiku dengan sesamaku.
Serta bagaimana relasiku dengan Tuhanku.
Bagaimanakah caraku mengekpresikan kualitas diriku menuju ketiga arah itu?
(1) Ketika aku berelasi intens dengan diriku, dapat aku ekspresikan lewat puasa dan mati raga. Aku, lewat kesadaran total akan mengendalikan ego diriku.
Aku mau ikhlas dan fokus menantang diriku. Di sini, yang dapat terjadi adalah sebuah proses pemurnian diri.
(2) Ketika aku berelasi dengan sesamaku. Aku ikhlas untuk ke luar dari egoku dengan cara berbelarasa. Aku mau tulus untuk membagi dan memberi dari apa yang aku punya.
(3) Ketika aku mau berelasi intens dengan Tuhanku. Dalam konteks ini, aku akan mengekpresikan diriku lewat cara berdoa.
Aku akan tekun berdoa: bermohon dan berharap dengan tulus serta jujur sesuai realitas hidupku.
Inilah model hidup yang bertolak dari diri yang berkualitas. Kehadiran dan keberadaannya akan terasa hambar serta tanpa makna, justru ketika sang manusia itu bersikap menutup dirinya.
Jika manusia itu hidup hanya dengan berfokus kepada dirinya, maka hidup ini akan jadi kian kering merana serta tak bermakna.
Sesungguhnya hidup yang bermakna itu hidup yang memberi sebagai ekpresi dari kualitas diri.
Aku ada, maka adaku adalah ada yang memberi!
…
Kediri, 20 Juni 2024

