| Red-Joss.com | Ketika remaja, saya mempunyai mimpi, saya ingin bebas finansial dan waktu di usia muda. Pergi ke mana pun tidak masalah, karena uang yang berkerja untuk saya. Tidak berarti saya banyak uang, tapi bebas pergi ke mana suka, dan mempunyai keleluasaan waktu.
Mimpi saya ingin bebas finansial dan waktu itu bermula, ketika saya jadi wartawan lepas. Saya ingin pergi ke mana-mana itu mudah, dan gratis. Caranya adalah saya mengajukan bahan tulisan pada redaktur kenalan di suatu media, lalu honornya saya minta di depan.
Ternyata jadi wartawan itu sungguh asyik. Banyak relasi, jalan-jalan gratis, wawasan luas, dan bahagia.
Pandangan saya segera berubah, ketika saya bertukar pikiran dengan seorang kenalan pebisnis, EJ yang saya wawancarai.
“Bekerja keras untuk memburu dan mengumpulkan uang itu biasa. Kita jadi cerdas, jika uang itu yang bekerja untuk kita.”
Dari EJ saya diajari cara berbisnis, jika ingin hidup berkecukupan, mapan, berbagi pada sesama, dan bahagia.
“Menarik sekali, menggiurkan, dan mudah” itu kesan awal, ketika saya membayangkan bisnis yang digeluti EJ.
Ternyata, EJ mempunyai beberapa usaha yang sudah mapan. Di antaranya distributor plastik, toko kain, konfeksi, dan kini merambah ke bidang kuliner. Jika ia hendak ke luar negeri atau berziarah, semua usahanya dapat ditinggal dengan tenang. Karena diserahkan pada orang yang berkompeten dan dipercayai. Ia dapat mengkontrol usahanya itu lewat hp.
Tidak hanya itu, sebagian dari hasil keuntungan itu oleh EJ disisihkan, dan dianggap sebagai uang mati, padahal diputar ke bursa saham, obligasi, atau disimpan ke perusahaan milik yang teman telah mapan. EJ tidak mau menyatukan uang itu dengan modal usahanya. Sehingga uang itu yang bekerja untuk EJ.
“Jika ingin banyak uang itu kerja yang cocok jadi marketing. Kita dapat menggaji diri sendiri, dan menentukan sendiri hasilnya,” tandas EJ serius. Saya percaya, karena rumah EJ bertetangga dengan teman gereja.
Menggaji diri sendiri itu tantangan baru yang menarik bagi saya dan menggiurkan, jika melihat barang yang dipunyai EJ. Semua tidak ada yang instan, tapi kerja keras dan ulet.
“Coba dipikirkan, jika kau tertarik, hubungi saya,” kata EJ sebelum pergi.
Lebih daripada itu, bahkan EJ mau memodali, yakni saya diminta jadi tenaga pemasaran di beberapa usahanya. Istilahnya: nyambi jualan, karena menurutnya, sebagai wartawan lepas saya mempunyai banyak relasi, waktu, dan peluang untuk sukses!
Mampukah saya berjualan?
…
Mas Redjo

