| Red-Joss.com | Macam-macam tanggapan cerita fiksi Romo Lanjar.
Kata ‘lanjar‘ dari ‘lanjaran‘, dibuat dari ranting kecil yang ditancapkan sebagai ‘media rambat’ tanaman rambat seperti kacang panjang, mentimun, atau sejenisnya. Sebagai anak mbarep (sulung) Lanjar diharapkan oleh ‘bopo biyunge’ jadi lanjaran untuk adik-adiknya. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Boleh ya? Lanjar memilih jalan hidup yang berseberangan dengan ekspektasi kedua orangtuanya. Begitulah kisah Romo Lanjar yang baik hati itu berakar.
Nama Lanjar pemberian orangtuanya diabadikan oleh Romo Lanjar, yang motto imamatnya: “jadi lanjaran untuk bersandar.” Terutama bagi mereka yang disingkiri dan disingkirkan demi nama baik. Mungkin Romo Lanjar ini melandasi hidupnya pada Sabda Tuhan: “Aku juga tidak menghukum engkau. Tapi jangan berbuat dosa lagi.”
Kesadarannya sebagai hamba Tuhan sederhana, tapi mendalam. “Aku datang bukan untuk menghakimi, tapi jadi lanjaran banyak orang untuk bersandar.”
Seperti Ibunya Priska dan Priska. Ibunya Priska jadi berani mengandung, melahirkan dan merawat bayinya. Pasti karena teladan kasih sejati dari Romo Lanjar.
Adikku, yang dua hari lalu berkunjung berkata: “Luar biasa, Pakde. Jenis cinta Romo Lanjar itu agape. Masih adakah Romo Lanjar di zaman ini, Pakde?”
“Pasti Dik. Bukan hanya Romo, tapi juga Suster bahkan umat yang berjiwa Lanjar,” jawabku.
Cara mewujudkan pasti beda. Sebagai orangtua kita yang harus belajar memahami Lanjar-lanjar muda mewujudkan cintanya pada Tuhan dan umat.
Walaupun cerita. Semoga Romo Lanjar beristirahat dalam keluhuran.
Salam sehat. Jangan lupa bahagia.
…
Jlitheng

