Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dialah orang bijak, yaitu orang yang tak bersedih akan apa yang tak dia miliki, tapi justru bergembira dengan apa yang ia miliki.”
(Epictetus)
…
| Red-Joss.com | Sudah sangat sering kita mendengar ungkapan isi hati dari orang-orang yang menunjukkan rasa kecewanya terhadap orang atau pribadi tertentu yang bertindak tidak sesuai dengan profesi dan panggilan hidupnya.
Ekspresi dari rasa kecewa itu, semisal:
“Sungguh, dia sudah tidak tahu diri!”
“Oh, itu sudah di luar batas kewajaran!”
“Itu namanya, tindakan lupa diri!”
“Janganlah kamu suka gila hormat!”
Atau juga, “Hal itu sudah bukan kapasitasnya.”
Masyarakat kita ternyata masih sangat kuat untuk percaya, menghormati, dan mengagungkan sebuah profesi atau pun sebuah panggilan hidup.
Semoga โkisah filsafatiโ berikut ini, dapat membantu demi menjernihkan proses berpikir dan konklusi kita.
Filsuf Aristippus sangat dikenal sebagai pribadi yang terikat dengan kenikmatan duniawi. Bahkan dia dijuluki sebagai filsuf yang berpaham hedonis.
Setelah beberapa tahun jadi penasihat yang mengagung-agungkan Raja Dionysus, akhirnya hidupnya bergelimang harta yang memang sejalan dengan paham hedonis yang telah dicetusnya.
Suatu hari, dia bersua dengan filsuf Diogenes yang terkenal miskin papa itu.
Kebetulan saat itu Diogenes sedang menikmati makan malamnya yang berupa kacang adas. Ia pun menegur filsuf Diogenes.
“Kalau kau mau belajar untuk memuja Raja, tentu kau tak perlu hidup dengan memakan kacang adas.”
“Kalau kau mau belajar menikmati kacang adas, tentunya kau tak perlu hidup dengan menjilat pantat Raja.”
Berguru pada Saru
(Hamdan Hamedan)
Dari dan di balik kisah filsafati ini, spontan serta sepintas kita dapat menarik sebuah garis kesimpulan, bahwa masyarakat kita dapat bersikap terbelah alias berbeda-beda pandangan dalam menghadapi kisah serupa ini.
Masyarakat kita percaya, bahkan sangat mengagungkan sebuah profesi atau panggilan hidup tertentu.
Mereka sangat mengharapkan agar setiap orang yang berprofesi dan berpanggilan hidup tertentu itu harus berjalan dan bertindak sesuai visi serta misi hidupnya.
Dengan kata lain, hendaklah seorang filsuf harus hidup selaku pemikir agung yang terbebas dari belenggu untuk menyembah seorang Raja, misalnya.
Janganlah kita bersikap dan bertindak ngawur serta takabur di dalam hidup ini. Karena berprofesi sebagai seorang pemikir dan bukan sebagai jongos penguasa.
Mengapa? Karena jika Anda bertindak di luar dari profesi dan panggilan hidup luhur Anda, bahkan rela menjadi seorang berharta, berarti Anda tidak lagi setia kepada profesi, apalagi pada panggilan hidup Anda.
Mari kita hidup setia sesuai visi serta misi panggilan hidup kita.
Hindari bersikap menyembah sesama dan meninggalkan profesi serta panggilan hidup Anda, hanya demi memperoleh harta kekayaan duniawi!
…
Kediri,ย 18ย Juniย 2024

