| Red-Joss.com | Sering sekali kita dengar petuah mbok ‘rendah hati’, baik lewat khotbah, artikel, obrolan atau cerita, yang nadanya (telunjuk) menunjuk ke orang lain, walau pakai frasa ‘kita’. Mengapa?
Kong Hu Cu (Dalam kitab Sucinya menulis: ada dua macam watak manusia yi. Junzi, seorang yang menuntut diri sendiri, dan Xiaoren yang menuntut orang lain. Seorang Junzi adalah seorang yang pribadinya sesuai dengan watak sejati (kasih, menjunjung tinggi kebenaran, beradab dan bijaksana). Xiaoren sebaliknya. Dia yi manusia yang kepribadiannya ‘tidak luhur’, seorang yang berperilaku kebalikan dari Junzi. Senang menuntut orang lain untuk menutup cacat atau ketidak-mampuannya.
Berikut ini ada Mini Cerita berjudul: Bapak. Sebuah kaca untuk kita semua, melihat siapa kita ini sebenarnya. Junzi atau Ziaoren.
Seperti kebiasaan di meja makan dari dulu, Pak Darmo duduk di kursi paling ujung, dan dua putrinya, Mulan, Jamila, dan satu putranya Kris, duduk di samping. Biasanya Bu Darmo di samping Bapak, tetapi ia sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Semua diam dan hening. Tak ada yg berani memulai bicara. Sengaja Bapak mengundang tiga anaknya yang sudah sukses berkarir dan tinggal di luar kota itu untuk pulang.
“Sengaja Bapak undang kalian pulang setelah urusan seribu hari Ibumu selesai,” Bapak mulai pembicaraan. Ketiga anaknya tetap diam, tak ada yang berani menatap. “Bapak sudah dengar keluhan dan kasak-kusuk di antara kalian. Kalian kecewa, marah. Malu punya Bapak yang tidak bisa menjunjung kehormatan keluarga. Kalian pikir Bapak sudah melupakan dan tidak mencintai Ibumu. Hanya karena Bapak mau menikahi Sumi. Pembantu yang sejak dulu bersama kita, merawat kalian sejak bayi, menjaga kalian, ketika aku dan Ibumu sibuk bekerja.”
Masih tetap diam dan tegang.
“Aku mau tanya, kalian sudah puluhan tahun mengenal Sumi. Apakah Sumi orang baik atau jahat? Coba jawab dengan jujur! Kalau memang ia jahat, katakan!” Diam, tak ada yg menjawab. “Kalian pikir aku tak sayang Ibumu? Tak ada yang bisa menggantikan Ibumu. Seluruh hidupku dilayani, sehingga aku nyaris tak bisa hidup tanpa dia. Kalian semua pergi dari rumah, aku gak apa-apa. Tetapi, ketika Ibumu meninggal, aku seperti kehilangan gairah hidup. Rasanya ingin menyusul… ” Hening, mereka menunduk. “Sumi yang dengan tulus dan telaten mengurus aku, menggantikan peran Ibumu. Usiaku hampir 70, ketika aku sakit, bisakah aku telepon kamu agar pulang merawat aku? Kalau sampai aku parah, adakah yang bersedia pulang dan meninggalkan karir dan keluargamu untuk mengurus aku?”
Hanya sesenggukan yang terdengar. “Di usiaku ini aku tak sanggup sendiri kecuali kalian ingin aku tinggal di panti jompo. Sumi yang sudah kenal aku, tahu masakan kesukaan, tahu kebiasaanku, bahkan tahu watakku. Aku yakin Sumi tanpa pamrih semata-mata mau melayani aku. Tapi soalnya, aku duda sedang ia janda dan tinggal satu rumah. Apa kata orang? Mungkin kalian berpikir aku butuh seks? Kalian tahu sudah lima belas tahun aku mengidap diabet sehingga tidak butuh itu lagi. Aku hanya butuh teman, aku butuh orang yang dengan ikhlas mau mengurus aku. Itu saja yang ingin kusampaikan. Kalian berhak berpendapat, saya tunggu jawaban sampai besok pagi sebelum balik ke rumahmu masing-masing. Sekarang istirahat.”
Malam terasa sunyi, tapi hati terasa dihunjam tombak. Tajam, menusuk ulu hati.
Dari ketiga anaknya, siapa Junzi atau siapa Ziaoren dan mengapa?
Salam sehat dari tanah Lot.
…
Jlitheng

