Simply da Flores
…
Asap berlari sambil tertawa
tinggalkan kobar nyala membara
di padang ilalang gersang
di jiwa raga yang malang
Ada tangan yang menyulut api
iri dengki dendam pikiran kelam
Entah di kampung udik negeri
Entah di kota-kota kecil
Entah di gedung-gedung metropolitan
Bahkan dari tempat sakral ibadah
karena mengkalim diri pemilik kebenaran
dan dirinya penguasa kehidupan
Di zaman digital milenial ini
ada kobar nyala membara tanpa asap
terus membakar emosi dan pikiran
Orang gampang menunjuk jarinya
mengadili sesama dalam segala hal
Tangannya sebarkan bara api kebencian
kata-kata caci maki penghujatan
Dibakar pada nama dan wajah sesama
yang tidak sesuai nafsu seleranya
yang berbeda suku agama dan budaya
yang berlainan pilihan politik dan profesi
yang tidak sama keyakinan imannya
Jagat maya tersebar api membara
berkobar setiap menit detik
mengejar korban yang disasar
karena gampangnya jari jemari bergerak
di atas layar sarana digital
Bahkan dijadikan sarana mencari uang
karena kontennya menarik bagi yang sedang galau dan sama selera
karena banyak yang malas berpikir untuk mencerna informasi
karena musim panas melanda kantong dan dompet
karena kilau pesona kreasi digital
karena telapak kaki tercabut dari debu tanah
karena kesadaran nurani terbang menguap
karena bening jiwa dicengkram polusi
Api membara menyala tanpa asap
bergerak berkobar dalam senyap
diantar energi dasyat digital
Langsung ke semua layar wajah
membara menyala dalam bola mata
menyusup ke samudra rasa pemirsa
menenggelamkan waras bening pikiran
menyisakan arang debu hitam lara
dalam rasa nurani jiwa
Setiap pribadi berjuang padamkan
dengan api kasih persaudaraan
dengan api kesadaran harkat martabat
dengan api iman sahaja bersujud
dalam setiap keputusan langkah
merenda lembaran waktu bersemi

