Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Semua orang akan pergi, belajarlah untuk bertahan sendiri.”
(Filosofi yang Membuat Kamu Menjadi Lebih Kuat)
…
| Red-Joss.com | Di dalam hidup dan kehidupan ini, ternyata tidak banyak orang yang kuat untuk bertahan seorang diri.
Nyata pula, bahwa banyak orang baru akan dan dapat kuat bertahan, jika ditopang oleh banyak orang.
Itulah sebabnya, mengapa banyak seruan berupa harapan atau pun himbauan yang diberikan oleh kaum tua-tua kita kepada kaum muda.
Di dalam dunia filosofi sangat ditekankan, agar manusia itu harus mampu untuk tegak berdiri dan bertahan sekalipun ia sendirian.
Cita-cita luhur dari para pendahulu kita, bahwa untuk jadi sebuah bangsa yang besar dan kuat, maka mutlak dibutuhkan hadirnya sosok-sosok pribadi yang berkarakter kuat dan tahan uji di dalam menghadapi aneka hambatan serta rintangan hidup.
Maka, dambaan kaum tua-tua ini, hendaknya tidak dimaknakan hanya sebagai sebuah adagium warisan. Namun seruan moral itu tentu sudah terbukti di dalam jalannya ziarah peradaban umat manusia. Mereka (kaum tua), sebagai para peletak dasar dan dalang di balik kokohnya bangsa ini.
Bukankah bangsa kita, oleh para nenek moyang dahulu, sudah dikenal sebagai bangsa pelaut yang sangat tabah dan handal?
Lihat contoh pada warisan agung yang dapat kita saksikan di zaman ini, berupa perahu phinisi, misalnya.
Juga pada keunikan aneka bentuk bangunan rumah yang masih dapat kita saksikan dan bahkan didaulat sebagai warisan budaya bangsa yang diakui oleh UNESCO, misalnya.
Itulah warisan agung yang justru telah membuktikan, bahwa betapa beradab dan kokohnya karakter para kakek nenek kita dalam mempertahankan warisan sebagai kekayaan bangsa.
Maka, jangan sekali-kali kita merasa heran atau bersikap membangkang, jika kita yang hidup di zaman keemasan teknologi ini dihimbau untuk bersikap kokoh dan kuat bertahan seorang diri.
Bagaimana kita bisa jadi sebuah bangsa yang kuat dan mandiri, jika kita secara mental justru sangat rapuh.
Masih ingatkah kita pada semboyan agung atau pekikan api pidato proklamator, Bung Karno, “Jadilah bangsa yang mampu berdikari!” Artinya, kita harus jadi warga dari sebuah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.
“Semoga bangsa kita ini, bukan sebagai sebuah bangsa pengemis. Melainkan jadi sebuah bangsa yang berani terbang sendiri, seperti elang rajawali di angkasa biru!” (Bung Karno).
Sesungguhnya, di balik luhurnya makna secara filosofis ini, sangat didambakan agar kita mampu jadi sebuah bangsa yang berkepribadian mandiri.
Maka, hendaknya setiap keluarga dan lembaga edukasi kita, agar mampu mendidik serta melatih generasi muda itu agar mampu untuk bersikap dewasa dan berkepribadian matang.
โBeri daku 1000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri daku 10 orang pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”
…
Kediri,ย 14ย Juniย 2024

