“Lalu mereka kecewa dan menolak Dia” (Markus 6: 3).
…
| Red-Joss.com | Penolakan itu menyakitkan, terlebih yang dilakukan oleh mereka yang dikenal, dekat, akrab, dan yang pernah jadi sahabat!
Bagi yang menolak! Tampak orang itu kelihatan angkuh dan sombong. Tapi bagi orang yang ditolak, pastinya ada berbagai macam perasaan yang bercampur aduk dalam hati ini: marah, jengkel, sakit hati, benci, putus asa, dan frustrasi. Hal ini tentu wajar, karena bagi manusia, siapa pun dia, pasti menginginkan perasaan yang dicintai, diterima, dan dihormati.
Yesus juga ditolak, ketika Dia ‘mudik’ ke Nazareth. Dia benar-benar ditolak. Yesus heran dengan sikap penolakan dan ketidakpercayaan orang-orang sekampungnya.
Pertanyaannya: Mengapa Yesus ditolak oleh orang-orang di kampung halaman-Nya, Nazaret? Penginjil Markus memberikan kepada kita sebuah alasan, yaitu karena Yesus hanya seorang anak tukang kayu dan ibu-Nya seorang wanita yang sederhana, bagaimana mungkin memperoleh kebijaksanaan yang luar biasa itu?
Yang terjadi selanjutnya, Yesus tidak ambil pusing dengan reaksi dan tanggapan orang. Karena Dia tidak mencari popularitas atau penggemar. Dia tidak ambil peduli terhadap pencemaran nama baik-Nya. Dia tidak peduli dengan reaksi orang: jadi suka dan mengagumi, atau sebaliknya marah dan bahkan membenci-Nya.
Yang terpenting, Dia tidak pernah kehilangan kemerdekaan batin-Nya. Dia tidak sakit hati, dendam, atau benci. Karena Dia mengasihi mereka.
Sikap ini yang harus kita teladani dari Tuhan Yesus. Penolakan jangan sampai membuat diri ini jadi tidak merdeka. Tetaplah jadi pribadi yang merdeka, meskipun pernah ditolak.
Rendah hati dan ikhlas, karena mengasihi.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

