“Sesungguhnya banyak insan yang telah dan terus berbuat kebajikan di jalan senyap.”
…
Di sebuah gereja kecil aku mengenali salah seorang seorang jemaatnya, yang belakangan setiap Minggu, saat dia berangkat ibadah, selain Alkitab dan barang-barang lainnya, dia membawa “sampah”.
Ya, sampah.
Sampah itu bisa berupa kardus, aneka kertas pembungkus, gelas plastik, tutup gelas, atau apapun yang sejatinya tergolong sampah yang tak terpakai lagi.
*
“Di gerejaku beragam jemaatnya. Baik tingkat sosial ekonomi, pendidikan, suku, dan sebagainya,” ceritanya padaku.
Di antara kami itu ada seorang janda yang lanjut usia. Tinggal di kamar kontrakan yang sempit bersama anak tunggalnya yang sudah berumur hampir setengah abad, dan berkebutuhan khusus.
Puluhan tahun aku mengenali dia. Setia ke gereja. Dulu pekerjaannya buruh cuci, ngepel, dan sebagainya. Belakangan ini, karena majikannya pindah rumah, dia jadi pemulung demi kelangsungan hidup berdua.
Tentu dengan kondisi badan yang makin tua, fisiknya kian lemah. Kontrakannya memang dibiayai gereja, tapi untuk operasional hidup sehari-hari dia pun harus berjibaku.
Kondisi fisiknya yang tak sempurna (karena matanya hanya berfungsi satu), menambah kesulitannya dalam mengais uang.
Aku hanya ingin sedikit memotivasi, menyemangati dia. Caraku adalah memberi pancing. Yakni setiap hari Minggu, kuusahakan membawa barang-barang rongsok ke gereja. Di sana kutitipkan ke Satpam atau kalau ketemu kuserahkan langsung kepadanya.
Pada teman-teman, aku juga mengajak untuk memperhatikan janda yang kesulitan ini. Karena ibadah sejati itu juga bisa berarti memberi kepada orang orang yang tidak bisa membalas kebaikan kita.”
*
Kondisi negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Kesenjangan bagai jurang yang tak berdasar.
Barangkali di komunitas dekat kita, dijumpai kondisi seperti itu. Mari kita bergerak, bergandengan tangan, dan bersatu padu. Karena kita peduli, berempati, berbela rasa, dan berbagi.
Bunda Teresa dari Kalkuta pernah menyatakan, “Di tatapan orang-orang sengsara-menderita itu kujumpai wajah Allah.”
…
Setio Boedi

